Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

25 August 2010

Review: The Expendables (2010)

Di usianya yang mencapai 64 tahun, Sylvester Stallone sepertinya masih sangat menolak untuk mengundurkan diri dari dunia film action. Setelah sukses memenangkan kembali hati kritikus film dunia dengan Rocky Balboa (2006) dan berhasil kembali menarik perhatian para penikmat film action lewat Rambo (2008), Stallone kini kembali lagi dengan The Expendables. Duduk di kursi sutradara sekaligus menjadi salah satu penulis naskah, The Expendables bukanlah sebuah ajang one-man show untuk Stallone. Lebih dari itu, Stallone mengumpulkan banyak nama bintang-bintang laga untuk bermain bersamanya di film ini.

Selain Jean Claude Van Damme dan Steven Seagal, rasanya hampir seluruh bintang laga Hollywood berhasil dikumpulkan oleh Stallone di film ini. Dari angkatannya, Stallone berhasil mengajak Dolph Lundgren, Mickey Rourke, Eric Roberts serta Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger yang melakukan cameo di film ini. Untuk menarik perhatian para penggemar film-film action generasi terbaru, Stallone juga mengajak sederetan nama seperti Jason Statham, Jet Li, Randy Couture, Terry Crews hingga Steve Austin. Sebuah sajian yang tentu saja sangat menggiurkan bagi seluruh penggemar film action.

25 June 2010

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Red CobeX sendiri mengisahkan mengenai lima orang wanita, yaitu Mama Ana (Tika Panggabean), Tante Lisa (Indy Barends), Yu Halimah (Aida Nurmala), Mbok Bariah (Sarah Sechan) dan Cik Meymey (Cut Mini Theo), yang kelimanya berasal dari latar budaya yang berbeda dan membentuk kelompok Red CobeX untuk membela kaum lemah dan sangat anti kemaksiatan. Mereka tak segan-segan menyakiti orang-orang yang mengambil keuntungan dari hasil bisnis kotor. Bersama Yopie (Lukman Sardi), anak tunggal Mama Ana yang lugu, Red CobeX kerap beraksi preman dengan meringkus dan main hakim sendiri.

Suatu hari, Red CobeX ditangkap polisi dan dipenjara karena dianggap meresahkan masyarakat. Setahun setelah kejadian itu, Yopie dibebaskan dari penjara dan menumpang pada Ramli (Irfan Hakim), sahabatnya sejak kecil, yang kini telah menikah dengan Ipah (Shanty). Semenjak berpisah dengan ibunya sendiri, Yopie bingung dengan hidupnya. Sepanjang hidupnya, ia merasa bahwa mamanya melakukan kejahatan untuk kebenaran. Namun, di sisi lain, dia mulai menyadari bahwa ia harus bersikap sewajarnya orang lain.

30 May 2010

Review: Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Ketika Walt Disney Pictures pertama kali mengumumkan rencananya bekerjasama dengan Jerry Bruckheimer untuk mengubah salah satu theme park di Disneyland menjadi sebuah film, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa Pirates of the Caribbean akan menjadi sebuah film yang selain menyenangkan untuk dilihat, juga memberikan keuntungan luar biasa bagi rumah produksi tersebut. Sekarang, Disney dan Bruckheimer kembali bekerjasama untuk memberikan sebuah petualangan baru bagi para penontonnya. Kali ini, bukan untuk menggubah sebuah theme park, melainkan sebuah permainan video game populer, Prince of Persia.

Untuk menangani film pertama adaptasi video game Prince of Persia, yang diberi judul Prince of Persia: The Sands of Time, Disney memilih Mike Newell untuk duduk di kursi sutradara. Walaupun lebih banyak dikenal untuk karyanya di film-film drama romantis seperti Four Weddings and a Funeral dan Mona Lisa Smile, Newell bukanlah seorang yang asing dalam menangani genre fantasy adventure. Hasil solid yang ia tunjukkan ketika mengadaptasi Harry Potter and the Goblet of Fire mungkin adalah alasan mengapa Disney yakin untuk memilih Newell.

Hasilnya, Prince of Persia: The Sands of Time muncul sebagai sebuah film yang cukup menyenangkan. Walau tidak semeyakinkan Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl, namun Newell berhasil menciptakan sebuah adaptasi video game yang kualitasnya cukup memuaskan dari kualitas film-film adaptasi video game yang selama ini beredar di Hollywood.

Filmnya sendiri mengisahkan mengenai Prince Dastan (Jake Gyllenhaal) yang dituduh membunuh ayahnya, King Sharaman (Ronald Pickup), dengan cara meracuninya. Dastan sendiri tentu saja membantah tuduhan tersebut. Baginya, adalah tidak mungkin untuk membunuh seorang pria yang telah mengangkatnya dari jalanan dan memberikannya kehidupan serta keluarga yang layak dimana ia dibesarkan selama ini. Sayangnya, semua orang tidak dengan mudah percaya akan hal ini, termasuk dua saudaranya, Tus (Richard Coyle) dan Garsiv (Toby Kebbell), keturunan asli sang raja yang akan meneruskan tahtanya.

Bersama dengan Princess Tamina (Gemma Arterton), puteri dari kota suci Alamut yang baru saja berhasil diserang Dastan dan saudara-saudaranya, Dastan melarikan diri dari kejaran pasukan kerajaan Persia. Dastan sendiri kemudian menemukan bahwa Tamina hanya mengikutinya untuk merebut sebuah belati yang mampu memutarbalikkan waktu, yang ia temukan ketika ia melakukan penyerangan ke kota Alamut. Lewat belati itu pula, Dastan mencurigai saudaranya, Tus, yang berada di balik pembunuhan sang ayah, merebut tahta sekaligus mencari belati tersebut untuk memperkuat kekuasaannya nanti. Kini, Dastan mencoba untuk menghubungi Nizam (Ben Kingsley), adik Sharaman yang dianggap Dastan sebagai satu-satunya orang yang dapat dipercaya, untuk menjelaskan semua kejadiannya.

Berbeda dengan Harry Potter and the Goblet of Fire yang ia arahkan sebelumnya, Prince of Persia: The Sands of Time sama sekali tidak menawarkan kekompleksitasan, baik dari sisi naskah cerita maupun dari tiap karakter yang ada di dalamnya. Penonton, sekalipun awam terhadap video game Prince of Persia, mungkin sudah dapat menebak bagaimana film ini akan berjalan, termasuk siapa tokoh antagonis yang akan dibuka di dalam jalan cerita film ini. Namun kesederhanaan inilah yang membuat Prince of Persia: The Sands of Time lebih mudah dinikmati.

Tidak seperti adaptasi video game lainnya yang seperti berusaha terlihat pintar dengan menambah banyak cabang cerita di tengah jalan cerita utama filmnya, Prince of Persia: The Sands of Time murni hanya berfokus pada jalan cerita mengenai usaha Dastan untuk membersihkan namanya. Dengan sesekali menyelipkan lembaran kisah romansa – yang juga sepertinya sudah dapat ditebak akan terjadi – antara Dastan dan Tamina, jalan cerita film ini terlihat cukup membumi, menyenangkan, dan dapat dinikmati siapa saja walau, seperti halnya Iron Man 2, di bagian pertengahan menemui sedikit masalah ketika film ini telah memaparkan seluruh masalah yang ada, namun berusaha memberikan jembatan cerita sebelum memberikan penyelesaian seluruh masalah.

Sebagai Prince Dastan, Jake Gyllenhaal terlihat cukup meyakinkan dalam memainkan karakternya. Walaupun image sebagai aktor serius sepertinya masih sulit dihilangkan dari dirinya, namun Gyllenhaal terlihat mampu bersenang-senang atas perannya yang ‘tidak begitu serius’ dan kompleks ini. Gemma Arterton dan Alfred Molina mungkin adalah dua pemeran yang paling sering mencuri perhatian di film ini. Arterton, selain dari wajah cantiknya, tentu saja, dibekali dengan banyak dialog-dialog lucu dan tajam di sepanjang film ini. Arterton berhasil membawakan hal tersebut dengan sangat baik dan membuat karakternya menjadi menonjol, sekaligus mempererat chemistry yang ia ciptakan bersama Gyllenhaal.

Sementara itu, salah satu aktor senior paling berbakat dari Inggris, Alfred Molina, lagi-lagi berhasil mencuri perhatian di setiap adegan dimana karakternya berada. Berperan sebagai Sheik Amar, seorang pengusaha yang sangat membenci kebijakan pajak kerajaan Persia, ia berhasil mengeluarkan daya tariknya lewat dialog-dialog dan tingkah yang berada di persimpangan antara jenaka dan sedikit bodoh. Molina berhasil memberikan hiburan tersendiri setiap ia berada di dalam adegannya.

Secara keseluruhan, Prince of Persia: The Sands of Time tidaklah menawarkan sesuatu yang luar biasa. Jalan cerita film ini, yang sederhana namun beberapa kali terasa sedikit melelahkan, bukanlah sebuah kekuatan utama dari film ini. Walau begitu, di bawah arahan Mike Newell, film ini berhasil menjadi film yang sangat menghibur dengan memaksimalkan kekuatan yang ada. Kekuatan ini muncul dari solidnya penampilan para jajaran pemeran yang ada sekaligus pemanfaatan special effect yang cukup mempesona di beberapa bagian film. Walaupun bukanlah sebuah film yang akan lama diingat banyak orang, Prince of Persia: The Sands of Time terbukti cukup menghibur dan memiliki kualitas yang jauh di atas film-film hasil adaptasi video game lainnya.

source : http://amiratthemovies.wordpress.com/

23 May 2010

Review: The Losers (2010)


Sylvain White, sutradara dari film I’ll Always Know What You Did Last Summer (2006) — sekuel I Know What You Did Last Summer yang langsung dirilis ke DVD — dan kemudian mencoba naik kelas dengan menyutradarai sebuah film drama yang bertema tarian, Stomp The Yard (2007), mencoba menyutradarai sebuah film action yang diadaptasi dari sebuah seri komik rilisan Vertigo, The Losers. Terdengar aneh? Sangat! Apakah berhasil? You’ll be the judge.

Walau proses adaptasi naskah ceritanya mengikutsertakan keterlibatan Peter Berg (Friday Night Lights) dan James Vanderbilt (Zodiac dan akan menuliskan naskah proyek reboot dari Spider-Man mendatang), namun The Losers sebenarnya tetap saja tidak dapat memberikan sesuatu yang baru. Bukan kesalahan tim penulis naskah, karena dasar cerita dari seri komik The Losers memang sudah pada awalnya hanya menceritakan sebuah cerita klise yang biasa terjadi di film-film action sekelas film ini.

Berkisah mengenai sekelompok tim khusus yang dipimpin oleh Franklin Clay (Jeffrey Dean Morgan), yang ketika menjalani tugasnya di Bolivia ternyata berhasil dijebak oleh seorang penyelundup senjata, Max (Jason Patric). Setelah beberapa saat mengasingkan diri di Bolivia karena tidak dapat kembali ke Amerika Serikat, Clay akhirnya mendapat sebuah tawaran sebuah jalan untuk dapat kembali ke tanah airnya.

Tawaran tersebut datang dari seorang wanita cantik — namun sangat, sangat mematikan — bernama Aisha (Zoe Saldana). Aisah sendiri meminta bantuan Clay dan timnya untuk menangkap Max dengan imbalan ia akan membantu Clay dan seluruh anggotanya untuk dapat kembali ke Amerika Serikat dan keluarganya. Aisha sendiri tidak begitu menjelaskan mengapa ia sangat menginginkan Max. Ia hanya menjelaskan bahwa Max adalah seorang yang berbahaya karena menjual senjata pemusnah massal yang berpotensi menyebabkan perang antar negara.

Ketidakjelasan asal-usul Aisha sendiri ternyata menjadi bahan keributan dan pertengkaran sendiri antara Clay dengan salah satu anggota timnya, William Roque (Idris Elba), yang membuat hubungan mereka sedikit menjauh. Sementara itu, Max sendiri dengan liciknya telah berhasil mendpatkan sebuah senjata dengan kekuatan nuklir yang siap ia pasarkan kepada mereka yang dapat membelinya dengan harga mahal. Aisha serta Clay dan timnya harus bertindak cepat untuk dapat menghentikan hal tersebut, serta membalaskan dendam mereka terhadap jebakan yang pernah Max lakukan kepada mereka di Bolivia.

Membayangkan sebuah film dengan penuh adegan ledakan dan pertarungan senjata api antara dua kubu? Ya… The Losers memang memilikinya. Bahkan, The Losers memilikinya dengan jumlah yang cukup semenjak film ini dimulai yang akan membuat para penggemar film action akan sangat menyukai film ini. Namun, action bukanlah menu keseluruhan yang dihadirkan dalam film ini. The Losers di beberapa bagian juga menyempilkan berbagai dialog dan adegan berbau komedi, kebanyakan diberikan oleh aktor Chris Evans yang berperan sebagai Jake Jensen, sang geek di kelompok tersebut. Untung saja Evans mampu dengan baik membawakan perannya dengan sangat baik di film ini. Bahkan, seringkali Evans memberikan kesegaran tersendiri dan menjadi salah satu highlight dari The Losers. Hanya saja, kadangkala penempatan adegan komikal tersebut juga sempat terasa kurang pas di beberapa bagian walau tidak terlalu mengganggu.

The Losers adalah sebuah film action yang murni mengutamakan hiburan kepada para penontonnya, dan harus diakui akan sangat dapat memuaskan mereka yang memang mencari sebuah film yang tidak menghadirkan terlalu banyak filosofi hidup di dalamnya. Walau begitu, hal ini tidak membuat terlalu rumitnya aliran cerita The Losers dapat diabaikan begitu saja. The Losers menghadirkan cerita yang terlalu banyak memiliki cabang yang cenderung akan membuat para penonton kehilangan fokus utama dari cerita yang hendak disampaikan. Hal ini mulai terasa semenjak pertengahan film hingga ke akhir yang dapat dikatakan menjadi salah satu faktor negatif terbesar dari The Losers.

Faktor lain yang menyebabkan The Losers cukup menyenangkan untuk dilihat adalah jajaran pemerannya yang benar-benar mampu membawakan energi mereka secara lepas untuk menghidupkan film ini. Tidak seperti film-film action kelas B lainnya, yang jajaran pemerannya seringkali terlihat kaku, seluruh pemeran The Losers mampu tampil baik. Selain Chris Evans, Zoe Saldana tentu akan menjadi perhatian utama para penonton film. Memang, Saldana bermain sangat total di film ini. Tidak hanya melakukan berbagai adegan action dan memegang senjata, Saldana juga tetap mampu tampil komikal ketika naskah menuntutnya untuk itu.

Jason Patric, yang berperan sebagai tokoh antagonis Max, juga tampil cukup baik. Cukup baik karena pada beberapa bagian, Patric sepertinya masih terkesan kurang sangar untuk berperan sebagai karakter yang bahkan hanya karena kesalahan sangat kecil, mampu membunuh orang lain. Nama-nama seperti Jeffrey Dean Morgan dan Idris Elba juga menambah keapikan departemen akting dari The Losers.

The Losers mengawali filmnya dengan sebuah adegan ledakan yang biasa terdapat pada film-film action sekelasnya. Film ini mulai mendapatkan nyawanya ketika Zoe Saldana mulai memasuki layar dan memberikan tambahan energi kepada jalan cerita yang dihadirkan. Saldana — dan juga Chris Evans — memang menjadi bintang utama dari film yang cukup sukses menghadirkan berbagai adegan action dengan ritme cepat yang pasti disukai para penggemar film action ini. Komedi yang dihadirkan di dalam jalan cerita memberikan dua efek tersendiri. Kebanyakan bagus, namun pada beberapa bagian terasa tidak ditempatkan dengan baik. Walau terdapat beberapa masalah di sisi naskah cerita, The Losers tetap berhasil tampil sebagai sebuah film yang cukup menghibur.

from : http://amiratthemovies.wordpress.com