Showing posts with label Info Portal. Show all posts
Showing posts with label Info Portal. Show all posts

14 February 2017

Pesona Taman Payung Pantai Jetis, Grabag, Purworejo


Pertama kali saya datang ke pantai Patutrejo tahun 2009, yang ada hanya hamparan pasir gersang. Pertambangan pasir entah untuk urukan atau bahan bangunan, marak dilakukan warga setempat. Jauh sekali dari kesan objek wisata.

Wajar memang kondisi pantai kala itu tidak terawat. Apalagi kawasan itu adalah bekas tambang pasir besi PT Aneka Tambang (Antam) yang mengakhiri masa baktinya tahun 2007 silam. Lalu Antam melakukan reklamasi sesuai kesepakatan dengan masyarakat. Untungnya, masyarakat ketika itu meminta kawasan pantai dihijaukan dengan ditanami cemara udang dan kelapa. Lubang-lubang bekas tambang diratakan.

Tahun-tahun awal pascareklamasi, belum tampak hasilnya karena banyak tanaman yang mati dan marak pertambangan pasir tradisional. Ketika tanaman mulai rindang dua tahun terakhir, mulai ada serbuan tambak udang. Tawaran keuntungan yang menggiurkan tampaknya tidak serta merta membuat seluruh warga tertarik, lantas mengubah pesisir jadi tambak. Masyarakat yang ketika itu juga mulai berpikir bahwa Pantai Jetis bisa dikembangkan untuk pariwisata.

Pelan-pelan kawasan itu dibangun, beberapa gazebo didirikan. Pengunjung datang 'cethal-cethil'. Setelah itu, barulah perubahan 'ekstrim' dilakukan masyarakat dan pemerintah desa sekitar setengah tahun terakhir. Mereka memikirkan konsep unik untuk mempercantik Pantai Jetis.

Dipakailah ide 'Taman Payung Pantai Jetis'. Mereka mulai memasang ratusan patung di dahan cemara. Membuat beberapa spot untuk bersantai di bawah rimbunnya hutan cemara, arena bermain anak, tempat selfie, gubuk istirahat di tepi pantai hingga gardu pandang setinggi kurang lebih enam meter.

Fasilitas pendukung juga dibangun. Musala, kamar mandi, tempat sampah, parkir dan akses jalan yang halus akan memudahkan wisatawan saat menikmati keindahan Pantai Jetis. Warung aneka makanan juga mulai menjamur di pantai itu.perubahan 'ekstrim' dilakukan masyarakat dan pemerintah desa sekitar setengah tahun terakhir. Mereka memikirkan konsep unik untuk mempercantik Pantai Jetis.

Adanya fasilitas itu memberi gambaran kepada wisatawan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan di Pantai Jetis. Petualangan di pantai, hutan cemara, selfie di atas panggung dengan latar belakang lambang cinta, santai di gubuk tepi pantai sampil menikmati semilir angin laut. Paling jos ya memanjat gardu pandang dengan pemandangan perbukitan Menoreh, tambak udang, hamparan hutan cemara dan horizon Samudera Indonesia.

Pantai Jetis buka setiap hari dan berkunjung ke sini juga masih gratis. Wisatawan hanya dikenakan biaya parkir dan sumbangan sukarela biaya perawatan ketika akan memanfaatkan fasilitas wisata seperti gardu pandang, panggung selfie dan arena bermain anak. Pantai unik itu mampu menyedot ribuan pengunjung dalam seminggu.

Untuk menuju Pantai Jetis juga amat sangat gampang. Pantai itu berjarak kurang lebih satu kilometer di selatan Jalan Lintas Selatan Jawa atau Jalan Daendels. Artinya pantai itu mudah diakses baik dari arah Yogyakarta maupun Kebumen. Sementara dari arah Purworejo, tinggal melaju sampai Kutoarjo, lantas ke arah Ketawangrejo, mentok Jalan Daendels dan kalau bablas terus, sampai juga ke Pantai Jetis.

Itu kalau pakai kendaraan pribadi, nah jika naik kendaraan umum, maka naik angkutan dan turun di Kutoarjo. Lantas gantian naik mikro jalur Kutoarjo - Ketawangrejo. Kalau sudah sampai Patutrejo, mungkin akan ada ojek atau jalan kaki aja udah cukup dekat.

Namun sajian indah Pantai Jetis jangan sampai kalian kotori dengan aksi vandalisme dan buang sampah sembarangan. Tempat wisata dimanapun bakal jelek dan pamornya meredup apabila pengunjungnya masih memiliki dua kebiasaan buruk itu. Tetap jaga kebersihan Pantai Jetis.





19 January 2017

Gunung Eifel, Menikmati Golden Sunrise di Purworejo


Indonesia, adalah gudangnya pariwisata. Untuk yang sudah naik daun maupun yang masih belum terjamah bisa dibilang juga masih perawan. Secuil surga yang turun dari langit ini masih menyimpan ribuan pesona destinasi baru yang siap menyuguhkan panoramanya untuk anda.

Jika di benua biru atau yang sering disebut Eropa, Prancis, ada salah satu icon negara itu?  Ya, menara eifel, adalah menara yang menjadi iconnya Negara Prancis. Berada di pusat kota mode dunia, Paris membuat menara iconik itu menjadi sangat terkenal. Apalagi ada yang bilang jika berada disana, merupakan tempat paling romantis di dunia. Nah untuk bermimpi bisa seromantis di Paris Peracis, tak usah jauh-jauh kesana.

Di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo ada sebuah gunung yang dinamakan Gunung Eifel. Mungkin nama ini cukup asing, karena memang sebelumnya belum ada nama ini. Yang ada gunung ini sebenarnya bernama Gunung Manggul, terletak di Desa Cacaban kidul yang secara administratif masuk Kecamatan Bener.

Gunung Eifel hanyalah sebuah nama secara tidak langsung yang dicetuskan saat kami dan tim mau mendakinya. Biar semua orang penasaran apasih Gunung Eifel itu, akhirnya sepakat bahwa Gunung Manggul itu diberi nama Gunung Eifel, dengan tujuan supaya banyak yang mau mengunjungi destinasi baru ini. Gunung eifel ini panoramanya luar biasa.

Hamparan pepohonan hijau memenuhi topografi pegunungan, terlihat jelas sawah-sawah hijau nan jauh di bawah sana dengan lekuk-lekuknya terasiring terlihat bagaikan lukisan batik nyata. Terlihat pula sekumpulan burung kuntul terbang membentuk gerombolan.

Gunung Eifel ini masih perawan, karena memang belum tersentuh tangan manusia untuk dijadikan wisata. Tetapi potensi dari panorama yang terlihat, cukup menjanjikan untuk dijadikan sebuah destinasi iconik daerah ini.

Sebenarnya cuma butuh akses jalur pendakian saja, karena untuk mendakinya pun perlu adrenalin tinggi. Sekitar 30 meter jalur pendakian harus melewati batu cadas yang sudut vertikalnya hampir 180 derajat. Bisa dibayangin bukan cukup membuat nyali menciut. Tapi bagi para petualang ini malah menambah semangat untuk menaklukan medan dan secepatnya ingin sampai puncak. Pesona yang disuguhkan sepertinya cukup komplit, karena letak gunung ini di tengah.

Jadi bagi pemburu sunrise dan sunset akan menemukan spot terbaiknya di sini. Walaupun memang tak seindah golden sunrisenya Sikunir tapi pesona keadaan alam tak akan mengurangi indahnya sunrise dan sunset di tempat ini.

Percayalah pendakian yang sulit itu akan terbayar lunas dengan semua pemandangan indah dari ketinggian gunung ini. Bagi kalian semua para traveler jika cukup penasaran dengan gunung eifel ini cobalah untuk di daki, letaknya yang tak jauh dari gunung kunir sepertinya memudahkan. Untuk mendaki kesana sebaiknya konsultasi dulu dengan warga masyarakat di sana, karena untuk saat ini jalur pendakian cukup licin.



Sumber : Yan Budi Nugroho/REVIENSMEDIA

17 January 2017

Petualangan di Mangrove Gedangan Purwodadi, Wisata Baru Purworejo



Wisata minat khusus sedang menjadi tren masyarakat Indonesia. Tidak hanya menyuguhkan tempat yang eksotis, wisata itu mengajak pengunjungnya untuk melakukan aktivitas yang tentunya memacu adrenalin.

Wisata minat khusus di Hutan Mangrove Desa Gedangan Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo salah satunya. Pengelolanya bakal mengajak pengunjung keliling hutan itu.

Namun tidak dengan berjalan kaki, melainkan naik kayak atau aktivitas kayaking. "Satu aktivitas yang memacu adrenalin memang memacu kayak," ungkap Sapto Pamungkas, pegiat wisata hutan mangrove di Gedangan.

Menurutnya, satu kayak dinaiki dua orang, pengunjung dan operator. Namun bila sudah mahir, dua wisatawan bisa mendayung satu kayak.

Mereka bisa mendayung kayak hingga sejauh satu kilometer menyusur hutan mangrove. Untuk keselamatan, mereka dibekali dengan jaket pelampung.

Masyarakat setempat membentuk kelompok sadar wisata Desa Mangrove Gedangan Purwodadi (Demang Gedi) yang menjadi operator tunggal kegiatan wisata di desa itu. Mereka mendapat binaan dari Komunitas Mangrove Purworejo (Komangjo), LSM yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan pesisir. Masyarakat membangun kawasan itu setahap demi setahap.

Upaya itu mulai membuahkan hasil dengan meningkatnya kunjungan ke Demang Gedi. Memang baru ratusan orang datang ke desa itu dalam seminggu, namun jumlah segitu pun cukup mengingat Gedangan baru merintis desa wisata.

Lantas, apa saja yang ditawarkan di Gedangan? Tentunya hutan mangrove. Pengunjung bisa menyusuri kawasan hutan meniti jembatan sepanjang ratusan meter yang dibangun masyarakat. Terdapat beberapa gazebo dan panggung untuk tempat istirahat di sepanjang jembatan mangrove. Sunset juga menjadi pemandangan unggulan yang banyak diburu di Gedangan.

Sebagai tempat wisata edukasi, masyarakat juga memberi kesempatan pengunjung untuk belajar ekosistem mangrove dan menanam bibit bakau. 

Tidak hanya itu, ada sensasi menyusur hutan mangrove dengan kano dan perahu mesin juga ditawarkan warga. Memancing dan mengamati burung juga lazim dilakukan di mangrove Gedangan. Tentu mudah mendapat tangkapan karena hutan mangrove menjadi sarang ikan muara.
  
Sementara fasilitas yang disediakan adalah lahan parkir tidak jauh dari jembatan mangrove, sejumlah warung makan. Sementara untuk sanitasi masih menggunakan fasilitas yang dimiliki warga, sebab pengelola masih membangunnya. 

Akses jalan menuju Gedangan juga mudah. Gedangan terletak hanya satu kilometer di sebelah selatan Jalan Daendels. Berkendaralah dari Purworejo ke arah Pantai Jatimalang, lalu sampai perempatan bangjo Jalan Daendels, Nampurejo, beloklah ke timur atau arah Congot Kulponprogo. Jangan ngebut, pelan2 saja, sebab berkendara hanya perlu sampai Desa Jogoresan dan akan terlihat rambu penunjung Desa Mangrove Gedangan.




Sumber foto dan berita (Jarot Sarwosambodo/krjogja)

12 November 2016

Bapakku Gun Jack, Preman Terbesar Yogyakarta

Wulan Mayastika. Semua foto diambil oleh Dea Karina

Wulan Mayastika sekilas seperti gadis kebanyakan. Kecuali untuk satu hal: mendiang ayahnya, Gun Jack, adalah preman paling legendaris dari Kampung Badran. Bagaimana rasanya menjadi anak preman kenamaan? Wawancara ini menguak sisi gelap Yogyakarta.


Wulan Mayastika mulai mempertanyakan apa sesungguhnya pekerjaan sang ayah gara-gara rentetan peristiwa sepele. Semuanya dipicu satu keganjilan kecil: cara orang-orang memanggil nama bapaknya. Biarpun saat lahir dia diberi nama Gunardi, nyatanya semua orang di kampung memanggil bapaknya "Gun Jack" penuh hormat, kadang sambil ketakutan. Ada yang memanggilnya Gowok. Nama lain sang bapak yang kesohor adalah Agus Joko Lukito. Tapi dari semua julukan itu, Gun Jack tetap yang paling dikenal.

Bermula dari perkara panggilan itulah, Wulan semakin mempertanyakan cara sang ayah mencari nafkah. Kolom keterangan pekerjaan Gunardi di KTP tertulis wiraswata. Tapi kenapa bapaknya, seorang pemilik warung bakso, mempunyai gerombolan anak buah yang selalu siap diperintah? Selain itu, siklus hidup Gunardi terhitung tak lazim untuk seorang wiraswastawan.

"Aku bingung. Bapakku itu dunianya terbalik, kalau malam buat kerja dan siang buat tidur," kata Wulan saat ditemui di rumahnya bulan lalu. "Aku merasa aneh soalnya temen-temen bapak suka ke rumah kan. Terus mereka itu serem-serem begitu lho bentuknya, tapi orang-orangnya nyenengin."

Kecurigaan Wulan bertambah saat dia menemukan banyak senjata tajam di mobil sang ayah. Lagi-lagi, dia tak sengaja memergokinya. "Aku pernah suatu hari berangkat sekolah diantar ibuku naik mobil. Terus pas mengikat tali sepatu di bawah jok itu ada pedang-pedang gitu," ujarnya. "Aku tanya ibu, 'ini apa?', tapi ibuku cuma bilang 'oh itu dari tempat babe'."Gunardi punya sebutan akrab yang hanya digunakan oleh anggota keluarga dan orang-orang terdekat: Babe.

Wulan tumbuh di Badran, Kecamatan Bumijo, sebuah kampung sebelah utara Kantor Samsat Kota Yogyakarta yang dulunya hamparan pemakaman Cina. Sekian dekade silam, para perampok dan pencuri yang menjadi buronan polisi menggunakan pemakaman ini untuk bersembunyi. Lambat laun, rumah-rumah berdiri di atas tanah pekuburan. Hingga kini, Badran masih menanggung cap lingkungan para kriminal. Apabila anda berasal dari Badran, sangat mungkin bila anda mengenal - atau malah anda sendiri - seorang kriminal, penjudi, pemabuk, transgender, atau orang-orang yang dianggap edan oleh masyarakat. Begitulah pengakuan Wulan.

Di lingkungan sarat kriminalitas ini, Gun Jack menjadi penguasa tunggal. Di luar bisnis bakso, sehari-hari dia mengamankan perjudian lokal, sekaligus dibayar oleh para penguasa yang berada di balik layar menyokong aktivitas para bandar. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) cabang Yogyakarta, melalui sayap organisasi Gerakan Pemuda Kabah, sesekali menggunakan jasanya sebagai petugas keamanan.

Bagi warga Yogyakarta yang mengenalnya akrab, Gun Jack sebenarnya tidak ditakuti. Dia justru dikenal sebagai figur yang baik hati dan berpikiran terbuka. Contohnya ketika Gun Jack mengadopsi dan mengasuh seorang bocah lelaki berumur 13 tahun dari Solo, setelah ayahnya - sahabat Gun Jack - meninggal. Bocah itu kini telah dewasa dan dikenal dengan julukan Mas Doni.

Doni, sekarang 36 tahun, merupakan satu-satunya anak asuh Gun Jack yang mengikuti jejak berkecimpung di dunia preman. Gun Jack pernah memintanya fokus sekolah, tapi Doni tak menuruti perintah ayah angkatnya itu.

"Aku mesti hidup di jalanan karena tidak ada pilihan lain," kata Doni. "Babe tidak pernah menghakimi atau memarahi aku sama sekali. Dia bukan tukang menghakimi. Dia ingin semua orang jujur menjadi dirinya sendiri. Sebagai bentuk balas budi, kuabdikan hidup untuknya."

Saat Wulan masih di kandungan sang ibu, Gun Jack sedang menjalani hukuman kurungan singkat. Dia dibui akibat tidak sengaja membunuh seorang pria saat berkelahi di klub biliar setempat. Gun Jack bebas tak lama setelah Wulan lahir.

Bagi Wulan, menjadi anak seorang preman terbesar Badran merupakan pengalaman yang menarik sekaligus cobaan berat. Walau sering disebut baik hati, toh Wulan ingat betul bapaknya sering naik pitam apabila diprovokasi orang lain. Selain itu, Gun Jack punya aturan-aturan sendiri yang dibuat manasuka, sesuai citra preman kebanyakan.

Pengalaman di Malioboro menjadi salah satu sisi gelap sang bapak yang sangat diingat Wulan. Saat itu Gun Jack memarkir mobil di kawasan yang seharusnya bebas kendaraan. Tak berapa lama juru parkir menegurnya. Gun Jack murka, memanggil kawan-kawannya, lalu mengeroyok si tukang parkir.

"Aku melihat sendiri bapakku salah parkir dan mukulin tukang parkir," kata Wulan mengenang peristiwa sekian tahun lalu itu.

"Habis itu aku keluar dan jalan sendiri. Aku engga mau ikut mobilnya. Aku jalan kaki beneran, bapakku ngikutin dan dia minta maaf. Terus aku bilang aku engga mau pergi lagi sama dia."
Wulan sempat lama tak bisa memaafkan ayahnya. Insiden di Malioboro baru satu peristiwa yang menunjukkan watak gelap ayahnya. Pernah Wulan bermasalah dengan seorang penjaga kantin sekolah, ayahnya datang membawa segerombolan pria. Mereka siap memberi si penjaga kantin 'pelajaran', untung berhasil dicegah.

Di kesempatan berbeda, sesudah Wulan pulang dari sekolah, semua kaca jendela rumahnya pecah. Penyebabnya ternyata pertempuran antara geng Gun Jack dengan kelompok musuh yang ingin balas dendam. "Semua kaca hancur berantakan," kata Wulan. "Warung baksoku itu juga pernah dibom sama kelompok preman yang lain. Lumayan, masuk koran juga waktu itu."

Wulan mengakui sebagian pengalaman masa kecilnya cukup traumatis. Bagaimanapun, ada untungnya jadi anak preman. Kadang dia mendapat hadiah dari orang tidak dikenal. Salah satu yang dia ingat adalah saat berkunjung ke Stasiun Kereta Tugu. Sesudah Wulan kelar makan di salah satu restoran, sang pemilik menolak dibayar. Bahkan satpam setempat menunjukkan hormat dengan cara menemani Wulan menyeberang jalan. Kali lain, sewaktu ayahnya menjemput Wulan di sekolah, semua anak-anak setempat bersorak "Gun Jack! Gun Jack!"

"Semua orang kenal bapakku," ujar Wulan. Kekuasaan dan pengaruh Gun Jack mulai pertengahan 1990-an hingga awal abad 21 meluas ke seantero Kota Yogyakarta, tak hanya di Badran.

Seiring Wulan tumbuh dewasa, sang ayah membeberkan satu lagi sisi kehidupan yang selama ini dia sembunyikan. Gun Jack mengajak anak gadisnya bicara empat mata. Gunardi rupanya khawatir Wulan membenci dirinya, seorang preman kenamaan.

"Dia pikir aku malu sebagai anaknya," ujarnya. Sekonyong-konyong Gun Jack mengeluarkan sebuah kartu anggota Badan Intelijen Negara (BIN). "'Ini lho kerjaan babe sebenarnya. Kamu jangan malu lagi ya punya bapak babe, kamu harusnya bangga'" kata Wulan menirukan ucapan ayahnya saat itu.

Sekian pertanyaan di benak Wulan terjawab sudah. Selain sepak terjangnya sebagai preman, Wulan sebetulnya menyadari ayahnya sering bepergian ke luar kota. Kadang bahkan hingga mancanegara. Ayahnya meninggalkan rumah paling lama saat terjadi kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah awal 2000-an. Begitu pula ketika peristiwa Bom Bali pertama terjadi pada 2002.

Sejak pengakuan itu Wulan lebih menerima sang ayah apa adanya. Hubungan mereka semakin dekat, sekalipun Gun Jack kadang lama tak pulang. "Ternyata karena dia masuk intelijen."

Wulan, kini 22 tahun, masih tinggal di Badran. Pengalaman sebagai anak seorang preman - dengan segala lika-likunya - membangkitkan ketertarikan Wulan pada cara kerja otak manusia. Dia memperoleh gelar sarjana psikologi Universitas Gajah Mada dan tengah mencari pekerjaan.

YOGYAKARTA SETELAH ERA GUN JACK

Kedekatan Wulan dan ayahnya, yang sebetulnya semakin erat, terpaksa berakhir. Gun Jack meninggal pada 2011 akibat limfoma - kanker kelenjar getah bening yang menggerogoti kekebalan tubuh. Sejak itu, bagi Wulan, Yogyakarta tidak lagi sama. Sepeninggal Gun Jack, Yogyakarta dikuasai kelompok preman baru.

Para preman berusia muda ini sering menggunakan intimidasi. Tak jarang mereka memaksa seniman liberal dan aktivis Yogyakarta menghentikan acara-acara bertema sosial dan kritis pada pemerintah. Motivasi dan metode gerombolan preman generasi baru ini, menurut Wulan, jauh berbeda dibandingkan dengan era Gun Jack.

Wulan ingat, sekalipun tak menutup-nutupi statusnya sebagai preman, ayahnya adalah pria yang berusaha mendirikan peternakan agar para pekerja seks transgender dapat memiliki pekerjaan layak. Gun Jack punya kepedulian yang kuat pada kaum-kaum terpinggirkan.

Ini pembeda Gun Jack dari preman yang sekarang menguasai Yogya: Dia bisa berbaur. Dia rutin bertemu tukang becak, pedagang angkringan di segala penjuru, serta para pedagang kaki lima. Gun Jack rutin memberi bantuan sembako bagi janda-janda miskin seputaran Badran saat masih berkuasa.

Dia bahkan menjadi inisiator pendirian masjid. Berdasarkan catatan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ulil Amri, yang mendalami telaah sosiologis premanisme Yogyakarta kurun 2004-2005, Gun Jack memprakarsai pembangunan 18 masjid semasa hidupnya.

Doni merasa ayah angkatnya bukan sembarang preman. Kehadiran Gun Jack membuat kawasan-kawasan pelacuran kumuh di Yogyakarta, dalam istilahnya, menjadi "punya wibawa". Terutama sentra jasa prostitusi Pasar Kembang, dan Ngebong di pinggiran rel Stasiun Tugu. Walaupun di sana berkumpul pemabuk, pelacur, pencuri, hingga pemadat, semua penghuninya bersatu menjadikan Gun Jack sebagai bapak mereka semua.

Sekarang Doni menilai para preman penerus Gun Jack lebih sibuk bersaing antar geng tanpa memperhatikan kalangan minoritas. "Bagi orang-orang yang hidup di jalanan sekarang sih kondisinya kacau," ujarnya. "Mereka saling baku hantam demi kekuasan dan harta belaka. Mereka butuh seorang figur yang bisa memberi contoh, figur yang bisa mengajari bagaimana cara hidup di jalanan secara terhormat dan menghargai sesama dan tetangga sekitar."

Doni tak mempersoalkan bila ayah angkatnya dikenang sebagai preman. Tapi dia ingin Gun Jack diakui sebagai preman baik. "Dia adalah seorang panutan," ujarnya.

"Gun Jack selalu memperhatikan kaum-kaum yang terpinggirkan. Ketika beliau masih hidup, area Pasar Kembang dihormati. Sekarang, rasa hormat itu sudah lenyap."











(DEA KARINA/VICE.COM)

02 October 2012

Masyarakat Peringati Hari Antinarkotika Internasional

JOGJA - Narkoba masih menjadi musuh nomor satu generasi muda di Kota Jogja. Ini tampak dari terungkapnya 34 kasus peredaran barang haram tersebut di kota Pendidikan ini. Demi mencegah peredarannya, berbagai kegiatan memerangi narkoba dilakukan Badan Narkotika Kota (BNK) Jogja bekerja sama dengan organisasi lain.

’’Kami tak hanya fokus mengobati pecandu narkoba ini melalui pengobatan methadon di Puskesmas. Pencegahan juga menjadi prioritas utama kami memerangi peredaran narkoba kepada generasi muda,’’ tandas Sekretaris BNK Jogja M K Pontjosiwi, Kamis (24/6).

Memaksimalkan pencegahan peredaran narkoba di kalangan anak muda, BNK menggandeng berbagai lembaga yang concern terhadap ancaman narkoba ini. Lembaga-lembaga ini bakal ambil bagian pada peringatan Hari Antinarkoba Internasional (HANI) yang jatuh hari ini (26/7).

’’Berbagai kegiatan telah kami siapkan untuk membumikan perang terhadap narkoba,’’ imbuh Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi ini.

Saat pencegahan, BNK menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan antisipasi. Mereka memulai dengan pengaderan gerakan antinarkotika di wilayah dan sekolah. Di antara kader tersebut yakni, Cegah Brantas Narkoba (CBN) yang tersebar di 14 kecamatan dan kader berbasis pendidikan di 33 sekolah tingkat SMA. Para kader ini mendapatkan materi masalah narkotika saat masa orientasi siswa (MOS).

Ancaman generasi muda di Jogja teracuni narkoba memang sangat besar. Ini tampak dari jumlah kasus yang terjadi selama tahun 2010 ini. Tercatat sampai dengan Mei 2010, ada 34 kasus, baik melibatkan bandar kecil dan besar yang terungkap aparat Poltabes Jogja. Ini tentu menjadi kewaspadaan bagi generasi penerus.

’’Bekal yang paling penting adalah keagamaan. Karena, agama merupakan alat paling efektif untuk menangkal semua jenis hal yang negatif,’’ kata Ari, salah seorang mantan pecandu narkoba yang kini menjadi petugas penjangkau Program Terapi Rumatan Methadon (PTRM).

Mantan pecandu narkotika jenis putaw ini menjelaskan, meski narkoba saat ini tergolong mahal, sasaran peredarannya sangat membahayakan. Terutama bagi pelajar ABG yang masih mencari jati diri. Mereka sangat mudah mengikuti ajakan teman demi bergaul.

’’Itulah yang paling penting. Persepsi mengonsumsi narkoba menjadi ciri anak muda yang gaul harus diubah,’’ ceritanya.

Kepala Bidang Bantuan dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Tri Hastono menambahkan, BNK mengagendakan berbagai acara menyambut HANI. Di antaranya ekspose potensi kader di Plaza SO 1 Maret, kampanye simpatik di Mal Malioboro, Galleria, Saphir Square dan bioskop XXI.

Selain itu ada malam refleksi di Tugu, upacara HANI di Kulonprogo, dan kampanye simpatik di simpang SGM, Tungkak, Gramedia, Abu Bakar Ali, Badran, Tugu, Wirobrajan, dan Titik Nol Kilometer. ’’Kami berobsesi tahun 2015, Kota Jogja sudah bebas dari narkoba,’’ tambahnya. (eri)radarjogja

19 September 2011

Komunitas Vespa Purworejo Gelar Atraksi Free Style

PURWOREJO  -  Komunitas Vespa yang selama ini identik dengan kesan urakan, ternyata mampu berbuat terbaik dan menarik minat masyarakat.

Bahkan di Kabupaten Purworejo komuniatas ini, Minggu (18/9), menggelar bhakti sosial di Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing dengan membagikan berbagai macam bibit pohon gratis kepada masyarakat untuk penghijauan.

Kegiatan ini semakin menarik masyarakat setelah dikemas dalam pesta reggae dan free style. Sebuah pertunjukan musik dan atraksi motor vespa. “Tidak banyak bibit pohon yang kami bagikan, mungkin hanya ratusan batang. Tapi niat kami agar masyarakat bisa menginjaukan kembali hutan rakyat di wilayah Menoreh ini yang kondisinya mulai kritis,” kata Ketua Panitia Kegiatan Supriyono Hadi.

07 September 2010

Ibunda Qory Tak Tahu Keberadaan Putrinya

Ibunda Qory Sandioriva, Ny. Fariawati, tak kuasa menahan air matanya saat ia memberikan keterangan kepada media infotainment, bahwa sang buah hati kini tengah terjerat aliran sesat. Apalagi setelah dirinya menemukan benda-benda 'aneh' berupa pita-pita berwarna-warni, barang-barang mirip mainan dengan bilah-bilah berjumlah ganjil, yang menurutnya dipakai oleh Qory untuk melakukan ritual.



Pada kesempatan tersebut, Ny. Fariawati menjelaskan bahwa putri tercintanya telah terpengaruh aliran hitam yang dibawa oleh seseorang berinisial 'R', yang ia akui telah diperkenalkannya pada Qory beberapa waktu yang silam. Dan semenjak perkenalan itu, Qory banyak mengalami perubahan sikap.

Lebih jauh, setiap kali sang bunda bertanya tentang 'R', Qory enggan menjawab dan terlihat emosi. Sehingga pembahasan tentang hal itu berujung pada percekcokan antara ibu dan anak tersebut.

Dan puncaknya adalah saat kepulangan Qory dari kontes Mandalay Bay Resorts and Casino yang dihelat di Las Vegas Nevada, AS, pada 23 Agustus 2010 lalu, dara cantik asal Nangroe Aceh Darussalam itu sama sekali tak pernah pulang ke rumah.