Showing posts with label STORY. Show all posts
Showing posts with label STORY. Show all posts

08 February 2017

Serigala Kesepian (Bagian 5)

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam


Pulang ke Kampung Halaman

Sekian lama serigala mengembara jauh ke tempat yang tak dikenal. Rasa letihpun mulai menyelimuti. Terlihat dari raut muka yang lesu, muram karena jauh dari kampung halaman. Pun tak ada lolongan yang melengking.

Setelah menginap di tempat Pak Lik yang tak lebih dari tiga hari. Karena memang itu anjuran bagi seoarang tamu agar tidak menginap terlalu lama. Hal ini akan merepotkan bagi shohibul bait (tuan rumah). Bisa dibayangkan jika seorang tamu menginap lebih dari tiga hari dan shohibul bait harus memperlakukan tamu bagaikan seorang raja. Kan bisa blaik.

Persiapan perjalanan panjang yang akan aku lalui sudah aku persiapkan sejak awal. Seperti aktivitas yang sudah-sudah ketika akan melakukan perjalanan panjang bahkan solo turing sekalipun. Kali ini perjalanan yang akan aku tempuh sekitar 300 kilometer.

Aku lebih suka melakukan perjalanan saat pagi hari sekitar pukul 07:00. Perjalanan pada pagi hari lebih nyaman jika dibandingkan siang hari karena mentari belum bersinar terik. Perjalanan pada sore hari akan menyebabkan terbatasnya jarak pandang, hal ini akan memengaruhi keselamatan saat berkendara terlebih saat melakukan solo touring atau perjalanan tunggal.

Setelah berpamitan, segera aku tinggalkan Desa Satriyan, desa tempat Pak Lik bermukim. Memasuki jalan raya, hal pertama yang aku cari adalah pom bengsin, tangki selalu kuisi dengan pertamax (bengsin dengan RON92). Bensin jenis ini akan membuat pembakaran lebih sempurna mengingat kompresi mesin sudah meningkat.

Selanjutnya etape yang harus aku lalui adalah Blitar - Kediri. Petunjuk arah demi petunjuk arah aku ikuti. Sengaja tidak menggunakan GPS/gugel mep/gugel strit viyu. Karena tidak menggunakan bantuan GPS, hal yang sering terjadi adalah tersesat.

Penunjuk arah yang tidak selalu ada pada tiap persimpangan atau bahkan tertutup dahan pohon yang belum dipotong oleh pekerja DPU, ditambah dengan jalanan yang belum dihapal mengakibatkan tersesat hal ini yang sering aku alami saat perjalanan pulang kali ini. Namun ini justru hal yang sangat menyenangkan.

Fokus pada plang arah Kediri, akhirnya aku sampai juga di kota Canda Bhirawa: Kediri. Kota dengan luas 963,21 kilometer persegi. Kota yang memiliki banyak pondok pesantren, Ponpes Lirboyo adalah salah satunya.

Kota yang memiki berbagai catatan sejarah. Wilayah ini penah menjadi bagian dari berbagai kerajaan penting Pulau Jawa, mulai dari Kerajaan Medang, Kerajaan Kadiri atau Panjulu. Pemerintahan Raja Jayabaya adalah puncak kejayaan Kediri, pengaruhnya hingga Ternate.

Melintasi wilayah Kediri mengingatkan pada tanggal 13 Februari 2014. Pada hari itu terjadi letusan Gunung Kelud tepatnya pukul 22:50 yang erupsinya sampai kota Purworejo dan suara letusan konon terdengar sampai Solo dan Yogya yang berjarak 200 km dari Kediri. Dampak dari letusan ini sempat melumpuhkan Jawa, tujuh bandara ditutup, kerugian materi pun hingga milyaran rupiah.

Gunung yang menjadi sengketa antara Kediri dan Blitar ini juga menyimpan legenda yang menjadi kepercayaan sebagian masyarakat. Berdasarkan legenda yang dipercaya masyarakat setempat, Gunung Kelud terbentuk akibat penghianatan seorang putri yang bernama Dewi Kalisuci, putri Jenggolo Manik, pada dua orang raja yakni Lembu Sura dan Mahesa Sura.

Karena kecantikannya Lembu Sura dan Mahesa Sura bersaing untuk melamar Dewi Kalisuci. Namun Dewi Kalisuci enggan menerima keduanya karena mereka bukanlah manusia pada umumnya. Lembu Sura berkepala sapi dan Mahesa Sura berkepala kerbau.

Hingga akhirnya Dewi Kalisuci membuat sayembara yang sangat sulit untuk mereka berdua. Dewi Kalisuci menginginkan dua buah sumur di puncak gunung Kelud yang satu berbau wangi dan yang satu berbau amis. Dan pembuatan sumur ini harus dilaksanakan dalam satu malam.

Lembu Sura dan Mahesa Sura pun menyanggupinya. Dengan kesaktiannya sumur tersebut akhirnya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Keberhasilan mereka ini tidak disukai oleh Dewi Kalisuci. Akhirnya Dewi Kalisuci membuat syarat tambahan dan merekapun menyanggupinya lagi. Mereka berdua harus masuk kedalam sumur tersebut untuk membuktikan bahwa sumur tersebut bernar-benar bebau amis dan wangi.

Dengan masuknya dua orang raja kedalam sumur tersebut, Dewi Kalisuci mempunyai niat yang tidak baik. Dewi Kalisuci memerintahkan pasukan Jenggala untuk segera menimbun sumur tersebut dengan bebatuan. Lembu Sura dan Mahesa Sura yang masuk kedalam sumur akhirnya tewas.

Namun sebelum Lembu Sura tewas ia sempat bersumpah disertai kutukan: ”Baiklah!! Besok orang-orang Kediri akan mendapat balasan yang setimpal dariku. Kediri akan menjadi sungai, Tulungagung akan menjadi danau, Blitar akan menjadi daratan”.

Berdasarkan legenda Lembu Sura maka masyarakat di lereng gunung Kelud secara rutin mengadakan tolak bala berupa larung sesaji pada tanggal 23 bulan Sura.

Lama menikmati perjalanan di Kota Kediri yang didominasi oleh jalanan lurus dan lebar, tugu perbatasan dengan kota selanjutnyapun terlewati. Nganjuk - Mejayan - Ngawi hingga Sragen tak terasa sudah terlewati.

Memang kalau motor sesuai dengan apa yang kata hati inginkan perjalanan sejauh apapun menjadi terasa dekat, perjalanan selama apapun menjadi terasa lebih cepat. Begitu pula dengan gendakan yang tidak begitu cantik kalau sesuai dengan kata hati dan dapat menjadi tambatan hati akan terlihat ayu (cantik) mempesona, bukan karena parasnya melainkan kesalihan yang dipancarkannya.

Memasuki kota Surakarta hati terasa tenang, perjalanan sebentar lagi akan usai. Motor terus kupacu walau badan sudah mulai kehabisan energi tapi tidak dengan motor yang sudah di bore up dengan seher CB150. Power mesin masih terasa padat dan terus mengisi walau panas mesin terasa menyengat di betis.

Akhirnya badan yang letih memaksaku harus berhenti untuk memulihkan tenaga ketika sampai di Klaten, tepatnya daerah Prambanan. Istirahat disembarang tempat sudah menjadi kebiasaanku sebagai elit mapala (mahasiswa paling lama).

Sampai di kota ini aku kembali mengalami d’Javu setelah menyaksikan kemegahan candi Prambanan. Candi yang dibuat karna suatu syarat. Syarat yang diberikan oleh seorang wanita kepada seorang pria yang ingin mepersunting menjadi istrinya.

Lagi-lagi karena cinta pada kecantikan seorang wanita. Seorang pria rela melakukan apa saja walaupun syarat yang diajukan seorang wanita sangat berat dan tak masuk akal. Dan tentunya hal ini akan meninggalkan petaka.

Kala itu Bandung Bondowoso yang terus-menerus mengejar - ngejar dan mbribiki Roro Jonggrang tak mengenal lelah dan membuat Roro Jonggrang yang tidak mau menerima Bandung Bondowoso mengajukan syarat jika ingin memilikinya. Roro Jonggrang menginginkan seribu candi yang dibuat dalam satu malam. Namun Bandung Bondowosopun menyanggupinya.

Dengan kesaktian yang dimiliki Bandung Bowoso dan bantuan bala tentaranya dari golongan makhluk gaib belum genap satu malam saja ia sudah dapat menyelesaika beberapa ratus candi. Melihat hal ini Roro Jonggrang tak bergeming dan berniat menggagalkan usaha Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang yang tidak mau dipersunting Bandung Bondowoso membangunkan para dayang dan petani untuk memukul lesung dengan tujuan agar ayam jantan berkokok dan ternyata ayam jantanpun berkokok.

Mendengar suara ayam jantan yang berkokok para bala tentara dari golongan makhluk gaib segera membubarkan diri. Mereka mengira hari sudah siang, dan akhirnya seribu candi yang diinginkan Roro Jonggrang gagal dibuat.

Mengetahui hal ini, Bandung Bondowoso yang merasa dikhianati kemudian mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung untuk menggenapi 999 candi yang sudah berhasil dibuat Bandung Bondowoso.

Ada benarnya jika Roro Jonggrang menolak Bandung Bondowoso, karana ditangannyalah Prabu Boko ayah Roro Jonggrang tewas. Bagaimana mungkin Roro Jonggrang menikah dengan orang yang telah membunuh ayahnya itu.

Namun tidak dibenarkan juga kecurangan yang dibuat Roro jonggrang terhadap Bandung Bondowoso. Kecurangan bukanlah sifat ksatria.

Melihat dari dua legenda diatas sudah seharusnya jika dalam berkomitmen tak ada satu pun syarat yang diajukan oleh salah satu pihak. Syarat yang diajukan hanya akan memberatkan salah satu pihak. Komitmen adalah keputusan bersama dan dijalankan secara bersama oleh kedua pihak tanpa ada paksaan/intervensi dari pihak manapun.

Paksaan, intervensi dan penghianatan hanya akan menimbulkan luka dan petaka. Entah kenapa wanita selalu menimbulkan petaka. Atau para pria yang tidak bisa menahan nafsunya. Ini salah siapa. Ini dosa siapa. Mungkin salah keduanya. Benar adanya jika ada istilah no women no cry. Istilah yang dipopulerkan oleh Bob Marley itu.

Wanita yang tidak tepat akan selalu menimbulkan petaka bagi para pria. Apalagi jika pria melihat wanita hanya dari kecantikan paras semata. Keindahan fana yang hanya sementara. Dan seharusnya wanita dinilai bukan karena parasnya, melainkan dinilai karena kesalihan yang ada pada hatinya. Hal yang sangat sulit untuk dapat mengetahuinya.

Saat hari mulai sore akupun terbangun dan kembali melanjutkan perjalanan. Saat ini kota Yogya - Purworejo menjadi etape berikutnya.

Setelah sampai Yogya hatipun terasa damai. Kurasakan seperti berada di rumah sendiri. Orang - orang yang ramah bagaikan saudara sendiri. Jalanan yang sebagian aku hapal tidak membuatku pusing menentukan jalan mana yang harus aku lewati.

Berhasil menaklukkan jalanan yang buas selama 12 jam kubereskan motor dan bawaan. Membersihkan diri agar menjadi nyaman. Mengisi perut dengan makanan bergizi agar mengembalikan stamina yang terkuras. Hibernasi segera dimulai sampai batas yang tidak tentukan. (*)

Ikuti serial Serigala Kesepian yang lainnya:

Serigala Kesepian (Bagian 1)
Serigala Kesepian (Bagian 2)
Serigala Kesepian (Bagian 3)
Serigala Kesepian (Bagian 4)


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

04 February 2017

Serigala Kesepian (Bagian 4)

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam


Perjalanan Solo Touring Pacitan - Blitar Via Trenggalek - Tulung Agung

Singgah dalam hutan yang penuh dengan domba dan kelinci adalah hal yang membahagiakan bagi serigala kesepian. Tanpa kelaparan, tanpa kehausan. Sesaat tanpa kekhawatiran dan kegundahan.

Singgah dan menginap beberapa hari di rumah mbak (kakak perempuan), selalu disuguhkan dengan masakan berbagai jenis ikan laut. Hal ini aku anggap sebagai perbaikan gizi untuk nanti melanjutkan solo touring berikutnya.

Memang rumah mbak yang dekat dengan glandang, tidak sulit untuk mencari ikan dengan harga murah, terkadang ada nelayan yang sungkan untuk dibayar ikannya. Bahkan berbagai jenis ikan hampir ada disini, tentu sesuai dengan musimnya.

Setelah beberapa hari singgah dan menginap akupun berpamitan akan melanjutkan solo touring ke kota Blitar, kota asal Presiden pertama Indonesia. Persiapan sudah clear (dipersiapkan) sehari sebelumnya, tak lupa kondisi motor juga sudah siap sempurna.

Dengan mengucap bismillah, berangkat meninggalkan desa Ketawang, tempat mbak bermukim. Pagi hari sekitar pukul tujuh, memasuki jalan lintas selatan. Motor kupacu santai dengan kecepatan 60 km/jam, sembari menikmati pemandangan terakhir di desa Ketawang yamg dikelilingi oleh perbukitan kars itu.

Melihat bar indikator bengsin yang bekedip menandakan bengsin sudah mau habis, aku langsung menuju SPBU Ngadirejo atau tepatnya SPBU 54.635.04. Tidak lama mengantri di pom bengsin karena memang keadaan yang sepi. Setelah isi bengsin full tank dengan jenis RON92 (pertamax) langsung menuju kota Trenggalek.

Memasuki Kabupaten Trenggalek yang sebelumnya tidak pernah melewatinya, aku merasakan atmosfer yang tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Pacitan. Perbukitan kars menghias dengan begitu indahnya. Jalanan yang mulus dengan tanjakan dan turunan serta tikungan menjadikan hiburan yang membuat riding (berkendara) tak terasa jemu. Hingga akhirnya harus memasuki perbatasan Ternggalek - Tulung Agung.

Jalanan Tulung Agung yang lebar, mulus, lurus dan sepi membuat riding menjadi lancar jaya. Terlihat speedometer menunjukkan angka 90 km/jam, terkadang tak terasa kecepatan mencapai 110 km/jam. Tak banyak tikungan dan tanjakan serta turunan yang membuat riding terasa bosan, riding pada top speed (kecepatan tinggi) pun menjadi terasa pelan. Riding pada kondisi seperti ini konsentrasi dan kewaspadaan harus siap siaga, jangan terlena, sesuatu apapun bisa saja terjadi.

Walaupun perjalanan di Tulung Agung hanya kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan tetapi terasa sangat lama. Hingga akhirnya memasuki Kabupaten Blitar.

Saat memasuki Kota Patria (Kota Proklamator), kota yang statusnya stabagai gemeente (kotapraja) pada 1 April 1906 berdasarakan peraturan Staatsblad van Nederlandsche Indie No. 150/1906, kota yang terletak 167 km barat daya Surabaya, atau kota yang juga disebut sebagai kota PETA (Pembela Tanah Air) dibawah pimpinan Soeprijadi. Kota yang mempunyai banyak sebutan lainnya sangat terasa aura perjuangannya.

Perjuangan mengusir bangsa Tartar, bangsa dari Mongolia. Sehingga Nilasuwarno, Adipati Aryo Blitar I menamai tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.

Konflik demi konflik antara Aryo Blitar I dengan Ki Sengguruh Kinareja yang tak lain adalah patihnya sendiri. Konflik ini terjadi karena Sengguruh ingin mempersunting Dewi Rayung Wulan, istri Aryo Blitar I.

Singkat cerita, Aryo Blitar I lengser dan Sengguruh meraih tahta dengan gelar Adipati Aryo Blitar II. Akan tetapi, pemberontakan kembali terjadi. Perjuangan kembali terjadi. Aryo Blitar II dipaksa turun oleh Joko Kandung, putra dari Aryo Blitar I. Kepemimpinan Joko Kandung dihentikan oleh kedatangan bangsa Belanda. Sebenarnya, rakyat Blitar yang multietnis saat itu telah melakukan perlawanan, tetapi dapat diredam oleh Belanda.



Kota yang secara geografis terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, berada di kaki Gunung Kelud dengan ketinggian 156 meter dari permukaan laut, dan bersuhu udara rata-rata cukup sejuk antara 24°–34° Celsius. Namun pada saat itu kebetulan matahari bersinar sangat terik panas dan gerah memaksaku untuk berhenti di warung soto Lamongan yang berada di trotoar dalam kota untuk mengisi perut yang sudah keroncongan, sebab siang hari enaknya keroncong bukan koplo.

Setelah tenaga pulih sehabis diisi dengan makan soto yang memiliki kalori ±700kal, aku melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Kanigoro. Motor melaju dengan kecepatan rendah karena belum hafal dengan jalanan kota ini walau sebelumnya pernah ke Blitar dengan gerombolan satu mobil. Sangat sulit menemukan plang penunjuk arah di kota ini. Memaksaku harus bertanya beberapa kali pada warga sekitar saat di jalan raya.

Lama mencari hingga tersesat dan bertanya kesana sini akhirnya sampai juga di bundaran/ perempatan Kanigoro. Tempat yang paling saya hafal, sebagai patokan mencari suatu alamat.

Dengan perasaan lega akhirnya aku hampir sampai di desa Satriyan. Desa dimana Pak Lik (Om) bemukim. Dengan keadaan letih karena perjalan yang memakan waktu sekitar tujuh jam perjalanan, motor kulajukan pelan hanya 40 km/jam saja.

Dengan mengucap alhamdulillah dan memanjatkan puji syukur telah diberi keselamatan selama perjalanan akhirnya sampai juga di rumah Pak Lik. (*)

Ikuti serial Serigala Kesepian yang lainnya:

Serigala Kesepian (Bagian 1)
Serigala Kesepian (Bagian 2)
Serigala Kesepian (Bagian 3)
Serigala Kesepian (Bagian 4)


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

31 January 2017

Serigala Kesepian (Bagian 3)

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam



Perjalanan Solo Touring Menuju Pacitan

Pagi itu aku berjalan agak pelan, menunduk agak malu-malu dan lesu, terlihat di raut wajah serigala kesepian seperti dihinggapi rasa pilu. Udara masih dingin menusuk sampai tulang. Sang mentaripun belum menampakkan sinarnya. Benar-benar situasi pagi hari yang masih sunyi. Sunyi sekali.

Begitulah keadaan waktu aku meninggalkan rumah melewati jalan perkampungan yang diaspal hanya dengan aspal kualitas buruk atau jalan dengan lapisan aspalnya hanya tiga milimeter saja.

Saat itu aku memacu motor dengan kecepatan rendah sekitar 30-49 km/jam. Karena tak pantas jika di jalan perkampungan mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi. Apalagi aku seorang anggota mapala yang juga menyandang predikat sebagai seorang biker.

Namun setelah memasuki JJLS atau Jaringan Jalan Lintas Selatan (Daendels) aku menuju kearah timur. Aku memacu kuda besi bak rindik asu digitik (sangat cepat). Kupuntir (putar) throtel gas dengan santai dan dalam-dalam. Oper gigi satu-persatu tak terasa angka di speedometer sudah menunjukkan angka 98 km/jam. Sesaat kemudian aku mengoper gigi lagi dan lama-lama kecepatan hingga 112 km/jam. Miris serta ngeris. Udara pagi hari yang dingin itu terasa menusuk sampai ke tulang rusuk.

Baru berjalan sekitar lima kilometer dari JJLS, dari kejauhan nampak keramaian. Adalah pasar ikan di pinggir jalan kali Congot. Setiap pagi pasar ini memang sangat ramai sekali. Segera aku melepaskan throtle gas dan kuinjak rem sedikit.

Terasa engine break yang menderum dengan getaran mesin yang tidak begitu kasar, karena kondisi motor masih prima. Setelah kecepatan motor turun hingga 50 km/jam, segera down shift gigi 3 dan throtel kembali aku puntir pelan, berjalan dengan santai karena setelah jembatan ada tikungan sedikit tajam.

Sesampainya di kawasan Glagah, tepatnya di SPBU 4455608 aku mengisi tanki motor dengan bengsin RON92 atau pertamax. Sengaja aku memilih jalur selatan karena jalur ini masih sepi dan tidak ada kendaraan besar, lagipula jalur selatan saat ini kondisinya sudah cukup bagus dan mulus.

Saat sampai di daerah Mbantul (Bantul) aku memilih menuju ke arah Parangtritis. Setelah melewati Parangtritis jalanan mulai sedikit menanjak dan juga bekelok, aku harus menghadapi perbukitan kars yang naik turun itu. Dibutuhkan konsentrasi tinggi agar motor tetap di jalur yang semestinya. Kalau motor tidak pada jalur yang semestinya, bisa blaik nantinya.

Cukup mudah bagi seorang serigala yang kesepian untuk mengendalikan Byson dari atas punggungnya. Walaupun mesin motor sudah mengalami bore up pakai seher CB150R dan penggantian dengan karbu PE28 menjadikan motor ini tidak liar dijalanan namun tetap bertenaga.



Bukit demi bukit aku naiki. Tikungan demi tikungan aku lalui dengan santai. Pemandangan sekitar perjalanan aku nikmati. Jalanan yang halus dan mulus membuat riding (berkendara) begitu nyaman.

Tak terasa perjalananku sudah cukup jauh. Ditandai dengan jalanan yang sudah kembali rusak berarti wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sudah terlewati. Entah di daerah mana aku saat itu, mungkin sudah memasuki wilayah Wonogiri, Jawa Tengah.

Perjalanan di perbukitan kars dengan jalanan yang rusak membuat badan terasa pegal. Tangan keju (capek) dan kesemutan, boyok bengkeken (punggung pegal). Sesaat aku menghentikan laju motor di halaman masjid. Sebentar aku merebahkan tubuh di emperan masjid sambil menunggu waktu salat dzuhur.

Seusai salat aku melanjutkan perjalanan, masih dengan kondisi jalanan yang rusak. Setelah sabar menghadapi jalanan yang rusak terlihat didepan jalanan yang begitu mulus dan lebar. Pertanda sudah memasuki daerah Pacitan, bak serigala kesepian yang haus menemukan oase di padang pasir. Segera ku pelintir dalam-dalam trotel gas untuk melampiaskan hasrat yang selama ini telah terkekang.

Jalanan kota Pacitan yang lebar dan mulus ditambah lagi dengan keadaan yang sepi membuat saya tak ragu untuk merasakan power mesin yang sudah mengalami bore up. Jalan yang berkelok serta naik turun serasa jalanan milik sendiri. Bebas memacu Byson dengan agak sedikit kejam. Namun safety riding tetap diutamakan.

Jalanan yang mulus dan pemandangan yang indah kadang terlihat dikanan dan kiri, bahkan tak jarang aku melihat garis pantai dari kejauhan, terbesit di hatiku ''apakah ini yang dinamakan seven heaven?''. Sungguh indah ciptaan-Nya. Memang Indonesia adalah negeri yang indah, sudah terkenal sejak dahulu kala.

Dan akhirnya aku harus mengucap syukur karena aku telah sampai di kota seribu goa; Pacitan, dengan selamat. Alhamdulillah. (*)

Ikuti serial Serigala Kesepian yang lainnya:

Serigala Kesepian (Bagian 1)
Serigala Kesepian (Bagian 2)
Serigala Kesepian (Bagian 3)
Serigala Kesepian (Bagian 4)


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

30 January 2017

Serigala Kesepian (Bagian 2)

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam


Persiapan Solo Touring Menuju Pacitan

Mengawali aktivitas dengan melakukan olahraga ringan adalah kebiasaanku sebagai seorang anggota Mapala. Senam kecil dan streching kulakukan agar peredaran darah menjadi lancar, tubuh menjadi bugar. Olahraga ringan yang hanya limabelas menitan ini biasa aku lakukan seusai salat subuh.

Dan yang tak pernah kulupakan setelah olahraga ringan ini adalah minum air putih satu gelas agar sel-sel di dalam tubuh terhedritasi serta dapat menjalankan fungsingya dengan baik.

Banyak yang bilang kalau solo touring itu sangat beresiko terlebih jika jarak yang ditempuh terbilang jauh. Pendapat tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Saat bersolo touring, resiko yang ditanggung oleh pengendara memang relatif lebih besar dibandingkan saat touring bersama dengan banyak orang. Salah satu resiko yang bisa terjadi adalah tersesat dan kelelahan yang berlebihan.

Kesuksesan sebuah tour sudah ditentukan sejak masa persiapan. Dengan persiapan yang matang, tour juga akan berjalan lebih lancar. Resiko-resiko yang mungkin bisa dialami juga bisa diminimalisir hingga ke titik terendahnya. Untuk itu agar tour solo dapat berjalan dengan sukses, jangan lupa untuk melakukan persiapan berikut ini.

Memanasi mesin motor sebelum melakukan perjalan adalah wajib bagiku. Agar panas mesin mencapai suhu optimal dalam pembakaran. Kuputar kunci kontak dan starter. Cekkk... Cekkk... Brum.

Biarkan mesin dalam keadaan stasioner selama satu menit lalu gas motor ke posisi 3000-4000 rpm selama satu sampai dua menit agar oli terdistribusi ke seluruh mesin, lalu matikan mesin. Tak perlu digeber-geber dan terlalu lama karena hanya akan membuang-buang bengsin (bensin) yang semakin mahal saja.

Satu hal yang menjadi fardu ain (kewajiban) sebelum perjananan jauh adalah mengecek keadaan fisik motor. Tekanan ban harus tepat, jangan terlalu keras karena ban akan menjadi licin dan jangan pula terlalu kempes karena akan menyebabkan tarikan motor menjadi berat. Periksa kekencangan rantai, kalau perlu lumasi.

Dan yang terpenting adalah periksa fungsi rem, jangan sampai rem tak berfungsi, karena akan fatal akibatnya. Jangan lupa juga membawa tool kit/kunci darurat untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat melakukan perjalanan.

Membawa pakaian seperlunya menggunakan tas punggung lebih praktis jika dibanding dengan tempat lainnya. Tas saya tempatkan di belakang lalu ditali menggunakan tali dari ban dalam yang sudah bekas. Sengaja tidak dicangklong (digendong) agar tubuh tidak mudah capek.

Mengenakan celana cargo/celana gunung dan sepatu safety adalah kesukaanku sebagai elit mapala saat melakukan touring. Jaket kulit dan sarung tangan akan melindungiku dari terpaan angin. Mengenakan masker mulut agar dapat menyaring udara kotor. Serta menggunakan helm berstandar SNI dan alat keselamatan lainnya adalah wajib hukumnya bagi seorang biker.

Berdoa sebelum bepergian agar diberi keselamatan adalah pesan pak ustadz waktu mengaji di TPA yang selalu kuingat dan akan selalu kuamalkan.

Putar kunci kontak searah jarum jam. Tekan saklar starter. Cek... cek.... brum.. brum... Capcus solo turing menuju kota seribu goa; Pacitan, kota tempat kelahiran mantan Presiden RI ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono. (*)

Ikuti serial Serigala Kesepian yang lainnya:

Serigala Kesepian (Bagian 1)
Serigala Kesepian (Bagian 2)
Serigala Kesepian (Bagian 3)
Serigala Kesepian (Bagian 4)


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

28 January 2017

Serigala Kesepian (Bagian 1)

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam



Salat Subuh Berjamaah di Masjid

Auuuuuwww................

Begitu melengking suara terdengar. Serigala kesepian melonglong saat dini hari mencari mangsa, perih bak beling semprong menyayat kalbu. Pilu dibulan puasa dalam kesendirian.

Adalah aku, seorang anggota mapala (mahasiswa paling lama) hidup dalam kesendirian. Terpisah dari gerombolan, tak ada teman, juga tak ada pasangan.

Saat itu, adzan subuh bulan ramadhan 1437H/2016M sudah berkumandang, akupun telah menyelesaikan santap sahur. Bergegas aku mengambil air wudlu dan berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah.

Seperti biasa aku lakukan, sebelum masuk ke masjid aku memanjatkan doa, dengan doa yang terpasang di samping pintu masuk masjid yang ditulis dikertas havees (HVS) dan dilaminating itu, konon agar kertas itu awet dan tidak cepat rusak.

Doa tersebut adalah doa agar kita mendapat rahmat ilahi dan diluruskan niat kita saat datang memasuki ke masjid.

Setelah masuk masjid dan berdoa, aku menunaikan salat sunah dua rokaat. Sambil menunggu imam salat datang, kulafalkan kalimat-kalimat suci untuk memuji ilahi. Disaat yang bersamaan, sang muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) sedang melantunkan puji-pujian. Saat itu sang muadzin mengumandangkan pujian syair Gus Dur.

Imam salat yang tak kunjung datang membuat suasana masjid yang begitu sempit menjadi riuh dan bergemuruh. Anak-anak kecil seusia Sekolah Dasar saling kejar kejaran dan anak yang gembeng menangis sesenggukan karna dijahili temannya.

Ibu-ibu yang semula berdzikir berubah menjadi bisik-bisik mengobrol tak karuhan, ngalor ngidul tak tentu arah. Sempat aku mendengar, ibu-ibu yang mengomentari penampilan seorang laki-laki yang berambut gondrong, dengan komentar yang tidak menyenangkan.

Akupun berusaha sabar mendengarnya karena ini adalah esensi dari puasa, pikirku. Disalah satu sudut yang lain, berbeda dengan ibu-ibu. Para kaum adam justru lehih memilih terdiam, menundukan kepala dan mungkin ada yang tertidur setengah pulas.

Suasana berubah 180° ketika sang imam salat yang karismatik lagi berwibawa itu datang. Sepi bagaikan suasana dapuran pohon bambu samping kalen (selokan). Sang imam salat langsung memerintakan muadzin iqomah tanpa terlebih dahulu salat sunah.

Barangkali imam tersebut salat sunahnya di rumah bersama istrinya. batinku. Para makmum dipersiapkan untuk salat oleh imam salat, agar supaya khusyuk dalam menjalani ibadah salat Subuh di pagi hari itu. Shaf (barisan) harus lurus dan rapat. Tak lupa anak kecil disuruh agar tidak gaduh.

Seusai salat, iman memimpin dzikir dengan dzikir sehabis salat dan menutup dengan doa. Para makmum mengaminkan dengan khusyuk. Anak-anak sudah lepas kendali lari kesana kemari. Setelah dzikir dan doa bersama usai, aku langsung meninggalkan masjid. Memang seusai salat subuh tida ada lagi solat sunah.

Tak lupa aku besalaman dengan jamaah lain di samping kanan dan kiri. Sebelum keluar masjid aku lafadzkan doa keluar masjid agar mendapatkan fadilah. Keluar masjid kudahulukan kaki kiri dahulu, mecari sandal dan akupun pulang ke tempat dimana aku tinggal.

Dapat menjalankan syariat-Nya adalah anugerah yang tak dapat dinilai dengan sesuatu apapun. Walaupun dengan dunia dan seisinya. Ketentraman hati karena dekat dengan ilahi. Ketenangan jiwa karna dapat menerima ketetapanNya sebagai seorang hamba.

Jadi. Pilu dalam kesendirian tak usah disesali. Usah kau bersedih, usap air matamu. (*)

Ikuti serial Serigala Kesepian yang lainnya:

Serigala Kesepian (Bagian 1)
Serigala Kesepian (Bagian 2)
Serigala Kesepian (Bagian 3)
Serigala Kesepian (Bagian 4)

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

27 January 2017

Plesiran di Desa Sendiri


Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam


Sejak dulu Indonesia memang terkenal akan keindahanya alamnya dari Sabang sampai Merauke. Tak elak banyak turis yang datang untuk melihat keindahan alam Indonesia, mulai dari negeri di atas awan sampai dasar lautan. Mereka mengatakan Indonesia ini bak zamrud di khatulistiwa.

Seperti yang ada di desa saya, pun juga tak kalah indahnya jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian lain, bahkan luar negeri sekalipun.

Mulai dari bangun tidur saat membuka jendela alam sudah menyuguhkan tanaman dan tumbuhan yang hijau royo-royo, dengan hawa sejuk yang ditandai dengan embun pagi yang masih bergelayutan di dedaunan. Tak cukup disitu, burung-burungpun menyapa dengan kicauannya dan terbang kesana-kemari saling kejar-kejaran.

Mengawali aktivitas pagi hari sebagai "mapala" (mahasiswa paling lama), menatap kedepan tepat di utara disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Gunung Sumbing berdiri dengan gagahnya, yakni 3.371 meter diatas permukaan air laut. Seolah ia berkata "akupun tak kalah gagahnya dengan Gunung Fuji di Jepang". Hamparan sawah yang luas menjadi lumbung padi di kota kami.

Dan yang tak kalah penting kita tak boleh melupakan sejarah atau ''jas merah'' seperti pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Disepanjang jalan aspal yang sudah rusak karena kualitas aspal yang tidak bagus atau lapisan aspalnya cuma tiga milimeter. Dulunya terbentang memanjang bekas rel spoor (kereta api) peninggalan zaman Belanda yang sudah beralih fungsi menjadi sawah. Orang sekitar menamainya dengan nama ngeban atau tepak ban sepur (bekas rel kereta api). Saat itu berfungsi untuk menghubungkan daerah perkebunan tebu menuju ke kota.

Dulu (di masa kolonial Belanda), pernah didirikan sebuah Suikerfabriek atau dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan Pabrik Gula. Suikerfabriek Poerworedjo sendiri dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, yaitu sebuah PT (Perusahaan Terbuka) yang dibentuk di Amsterdam (Belanda) pada tahun 1908. Tujuan PT tersebut tak lain adalah untuk mengusahakan berdirinya sebuah pabrik gula di Purworejo dengan menghabiskan modal 5 juta gulden yang terbagi dalam saham masing-masing lembar senilai 1000 gulden.

Pada saat itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia meningkat sangat tajam. Dan hal itu jugalah yang memicu pertumbuhan pabrik gula di Jawa berkembang pesat hingga mencapai jumlah 180 pabrik pada akhir tahun 1920.

Saat itu, Indonesia (Jawa), --termasuk tempat disaat saya mengambil gambar ini-- menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba. Namun kini telah menjadi sejarah dan tanah memanjang itu telah menjadi hamparan sawah.

Untuk melakukan plesiran atau wisata kita tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, karena negeri ini sesungguhnya suwargaloka tempat dimana kita berkarya. Dan yang terakhir saya memuji kehadirat Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan pusaka abadi nan jaya Indonesia yang selalu dipuja-puja bangsa.

Jadi, anda ingin melihat Gunung Sumbing dan merasakan atmosfir pedesaan di pagi hari? Barangkali tempat ini cocok untuk anda.(*)


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

26 January 2017

Mapala Membawa Petaka

Oleh : Iska Budiarto, Pecinta Alam



Di tengah maraknya pemberitaan meninggalnya anggota mapala yang diduga akibat kekerasan yang dilakukan oleh seniornya saat menjalankan latihan. Belum hilang sepenuhnya dalam ingatan publik kasus kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Jakarta pada 10 Januari 2017. Seorang taruna tingkat 1 sekolah pelayaran itu, Amirulloh Adityas Putra (19) tewas dianiaya seniornya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tiga mahasiswa UII meninggal dunia setelah mengikuti The Great Camping (TGC) Mapala UII di Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, 14-22 Januari. TGC merupakan pendidikan dasar (diksar) bagi para anggota baru Mapala UII.

Tiga korban tewas itu adalah Muhammad Fadli (20), Syaits Asyam (19), Ilham Nurfadmi Listia Adi (20). Tragedi itu juga mengakibatkan puluhan peserta diklat lainnya mengalami luka-luka. Hingga kemarin, masih ada sepuluh mahasiswa UII yang dirawat di Jogja International Hospital (JIH). Diduga, ada tindak kekerasan selama diksar berlangsung.

Alih-alih mengikuti organisasi tersebut agar saya dapat mengetahui dan mengungkap fakta yang sebenarnya, saya justru lebih suka merawat kucing yang memang kucing adalah salah satu bagian dari alam yang memang patut untuk kita dicintai.

Tak bisa dipungkiri menjadi anggota mapala memang menjadi kegiatan yang positif. Mendaki gunung ataupun melewati lembah adalah salah satu kegiatan yang menjadi agenda rutin. Entah kegiatan bulanan, tahunan atau kapanpun bisa mereka kehendaki.

Namun apa jadinya jika dalam perekrutan anggota mapala harus menggunakan kekerasan, apalagi jika mengakibatkan kematian. Kekerasan oleh senior memang terjadi dimana-mana tak hanya dalam perekrutan anggota mapala kekerasan fisik terjadi. Di dalam sekolah yang berbau militerpun kerap terjadi kekerasan fisik oleh senior hingga mengakibatkan kematian, para preman diterminalpun melakukannya.

Jika mereka mengaku seorang mapala seharusnya mereka bisa menyeimbangkan kehidupan dan lebih menghargai kehidupan tanpa ada kekerasan oleh siapapun. Merekrut anggota, mendaki gunung dan melewati lembah adalah bagian kecil. Menebarkan salam, cinta kasih atau berdharma pada sesama adalah esensi yang sebenar-benarnya dari sang pecinta alam. (*)

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab jenthikmanis.blogspot.com

***

Tulisan anda ingin dimuat di kolom OPINI ini? Silahkan hubungi kami.
Kami tunggu tulisan menarik anda.

23 January 2017

Polemik Bandara dan Disney Land Kulonprogo


Di group whatsapp yang saya ikuti sedang terjadi obrolan yang sangat serius. Bukan, bukan obrolan tentang Zumi Zola yang sedang gugah-gugah itu. Bukan pula tentang film Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-Kata" itu. Ini tentang hal yang remeh temeh. Sepele.

Pemicunya adalah tulisan saya yang berjudul "Panen Mobil di Glagah". Seorang kawan yang otot trisepnya methékol yang memulainya. Ia memberi masukan ke kawan saya lainnya yang sudah Go Internesyenel.

Kawan saya memang unik. Selain otot trisep dan bisepnya methékol, blio berambut gondrong sebahu, perut blio juga mempunyai enam kotak. Dari kejauhan ia mirip Agung Hercules, namun cengkok ndangdut blio masih payah. Tapi kalau dilihat dari dekat, ia justru lebih mirip seperti Cut Tari.

Kawan saya satunya, blio sudah Go Internesyenel. Konon, ia tetangganya Lee Min Hoo, hanya satu kecamatan. Pernah sungkem sama Kim Jong Un. Misinya ke luar negeri untuk menyamar, blio juga memanjangkan rambutnya sebahu. Namun orang-orang tetap saja mengenali blio. Penyamaran gagal.

Uniknya lagi, saat di negeri ginseng tersebut blio masih menyimpan uang eketan ewon dua lembar. Opo yo payu?

Kawan saya yang methékol menyarankan bisnis kepada kawan saya yang Go Internesyenel. Bahwa dengan adanya bandara baru di Kulonprogo, ia menyarankan bisnis armada transportasi umum semacam taxi.

Sang penyamar berkilah, alih-alih tak ingin menjalankan saran temannya, ia lebih memilih menjadi lurah saat ia pulang nanti.

Diskusi mengerucut pada satu hal. Saat bandara nanti sudah jadi, mereka berencana akan membangun tempat hiburan malam; karaoke. Sambil nyalo di bandara. Suog!

Sebenarnya apa yang membuat orang-orang tidak setuju dengan pembangunan Bandara dan Disney Land Kulonprogo itu?

Kalau saya kok setuju-setuju saja, sebab kalau saat saya sedang merantau di Klaten misalnya, dan orang menanyakan rumah saya, setidaknya saya bisa menjawab "omahku kulon bandara" atau "omahku kulon disney land". Tidak hanya "kulon Congot" melulu.

16 November 2016

Bertemu Amazing



Angin malam berhembus begitu kencang di kota Nganjuk bagian timur: Kertosono, saat itu. Suasana seperti itu merupakan hal yang lumrah.

Karena Nganjuk diapit diantara dua gunung, yaitu Gunung Wilis dan pegunungan Kendeng yang membuat kota ini memiliki hembusan angin yang sangat kuat. Karena hal ini pulalah kota itu dijuluki kota angin.

Langit malam yang menjelang dini hari saat itu tampak cerah. Udara dingin pun menyeruak sampai ketulang sumsum. Nganjuk malam itu tak seperti biasanya, yang sedikit panas dan gerah. Malam ini berbeda, terasa sangat dingin sekali.

Saya datang ke kota ini sudah tak terhitung jumlahnya. Dulu, satu bulan sebelum dan dua bulan sesudah Amazing lahir, setiap seminggu sekali, selama tiga bulan saya sering pulang pergi Yogya - Kertosono.

Saya lebih memilih perjalanan menggunakan bus malam. Biasanya, Sabtu malam dari Yogya, kemudian Minggu malam dari Kertosono. Begitu terus selama tiga bulan.

Tapi, selama dua tahun terakhir ini, tarif bus yang sering saya tumpangi itu masih tetap sama, tak berubah. Karena seringnya saya menumpang bus ini pula, saya jadi tahu dangdut koplo keluaran terbaru, dan kelak lagu-lagu tersebut menjadi populer saat itu.

Karena itu, saat Amazing tepat berusia dua bulan, ia langsung kami boyong ke Yogya. Kami merawat Amazing sendiri, tanpa campur tangan orang tua. Walaupun sesekali orang tua dan mertua saya menengok kami di Yogya, tapi itu hanya satu atau dua hari saja.

Semenjak istri saya mengandung Amazing, saya memutuskan supaya istri saya berhenti bekerja dan bertekad untuk mengurus anak kami. Jadilah kami pasangan muda yang pontang-panting karena tingkah polah Amazing.

Tentu saja apa yang dilakukan istri saya tidak bisa diperbandingkan dengan saya. Terlebih saat saya ada pekerjaan lembur atau pekerjaan diluar kota. Ia akan lebih kerepotan.

Dengan energi dan tingkah polah yang luar biasa, Amazing selalu membuat kami ngos-ngosan, kewalahan. Namun semua itu bisa terbayar karena kami bisa mengetahui perkembangan Amazing setiap saat, setiap waktu.

Seorang guru saya pernah memberikan nasehat, "Kalau kamu bisa, kamu boleh kehilangan apapun itu, kesempatan, karir atau uang. Tapi jangan sampai kamu kehilangan waktu untuk anakmu paling tidak sampai dia berumur 6 tahun. Begitu kamu kehilangan waktu bersama dia di rentang usia itu, kamu akan makin banyak kehilangan. Segalanya berlalu makin cepat." Tuturnya.

Malam itu saya baru saja turun dari bus malam patas Yogya - Surabaya. Hawa dingin AC bus malam masih sangat terasa di telinga. Malam itu perjalanan terasa sangat cepat. Hanya butuh waktu empat jam perjalanan saja. Normalnya kalau memakai angkutan umum semacam bus, bisa mencapai enam jam.

Sesampainya di rumah Kertosono, udara dingin masih saja mencumbu di leher dan juga telinga. Benar-benar Nganjuk dini hari yang sangat dingin sekali.

Malam itu, saya berencana menjemput Amazing dan istri saya di rumah simbahnya. Sudah hampir dua pekan ini mereka berada disini, untuk mengurus pembuatan KTP Elektronik.

Istri saya rupanya sudah bangun, tapi tidak untuk Amazing. Saat saya datang dini hari itu, ia terlihat masih nglempus, damai betul tidurnya.



Saking rindunya saya dengan bocah berumur duapuluh bulan itu, seketika ia saya bangunkan. Kelopak matanya masih lengket, seakan malas untuk melek.

Namun ia tersadar, bahwa seseorang yang membangunkannya ialah bapaknya. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia langsung memeluk saya dan berkata "Bapaaaaak...", lalu ia mencium saya.

Seketika itu ia langsung mendheles, bregas, kemlinthi. Lari kesana kemari, menjatuhkan tubuh mungilnya ke kasur, lalu bangun lagi, dijatuhkan lagi, begitu terus. Seakan ia sedang memamerkan kemampuannya. Udara dingin yang sedari tadi menyeruak di ruangan itu berubah menjadi hangat karena menyaksikan tingkah Amazing.

Sesaat, tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu. Ia menggeledah tas ransel yang saya bawa. Ia mencari mobil-mobilan dan buku bacaannya: Isidore, yang memang saya janjikan akan saya bawa kalau hendak kemari.

Setelah ia menemukan kedua benda itu, ia tampak bungah, sumringah. Sesederhana itu.

Lagi lagi, udara dingin dini hari di ruangan itu semakin hangat saja dengan menyaksikan senyum lepas sumringah bocah dengan memakai kaos singlet itu.

Belakangan saya tahu, udara dingin yang menyeruak menusuk pori-pori itu berasal dari mesin penyejuk ruangan dengan kapasitas 1.5 PK merek Sharp yang dipasang di salah satu sudut ruangan tersebut. Trondolo manuk alas.

Mungkin lain kali saya akan nyicil membeli jaket bomber asal Spanyol dengan merek Zara, jaket yang dikenakan Jokowi saat konferensi pers berkaitan dengan tragedi empat sebelas itu, agar hawa dingin tidak begitu merasuk kedalam tulang sumsum.

Tentunya saya akan mengangsur dengan sistem syariah, supaya saya terbebas dari riba. Atau malah sampeyan punya kenalan penjual jaket yang bisa di cicil tapi bebas bunga?

***

~ Turut prihatin atas kepergian Intan Olivia, bocah berusia tiga tahun, karena ledakan bom di depan Gereja Oikumene, Samarinda akhir pekan lalu itu ~

05 November 2016

Kos-kosan Menyan (4): Puisi Kether


Kepiawaiannya yang diatas rata-rata dalam menulis puisi. Kether acapkali dimintai bantuan oleh teman-temannya untuk membuat puisi. Tak terkecuali oleh Subur.

Tentu saja, puisi itu nantinya akan dipergunakan Subur untuk merayu seseorang; pujaan hatinya.

Kether, yang kadang kecerdasannya diluar nalar. Ia sengaja bertanya kepada Subur perihal agama. Tak main-main, Kether bertanya tentang hukum sholat.

Sore itu Subur sedang bersandar ditembok, disalah satu sudut kamarnya. Ia tampak serius, rupanya sedang merayu seseorang melalui sms. Sudah barang tentu, ia merayu dengan puisi yang dibuat oleh Kether.

Tiba-tiba, mak jegagik. Kether masuk begitu saja ke kamar Subur.

"Bur, nek ngongkon wong sholat ki hukume opo?" Tanya Kether. Sambil mencet-mencet telepon genggamnya, tanpa melihat kearah Subur.

"Oleh pahala." Jawab Subur, yang juga tak melihat kearah Kether.

"Percuma bapakmu nyekolahke kowe neng Muhammadiyah, Bur." Sergah Kether yang masih sibuk dengan tombol di telepon genggamnya, seraya ingin duduk mendekat disamping Subur.

"Kok iso?" Jawab Subur.

Subur bangkit dari sandarannya, ia tampak tersinggung dengan ucapan Kether.

"Memange hukume opo, nek ngongkon wong sholat?" Tanya Subur mulai penasaran.

"Dosa..!!" Kether menimpali pertanyaan Subur.

Subur mulai curiga. Ia khawatir, pengaruh alkohol yang berlebihan mungkin sudah memengaruhi sebagian otak kanan Kether.

Subur tahu betul gelagat Kether. Kalau sudah ngelantur seperti itu, pasti Kether sedang tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.

Subur berniat mengambil balok kayu, yang sengaja ia letakkan di balik pintu bercat cokelat itu.
Sesaat sebelum Subur beranjak dari duduknya. Kether melanjutkan perkataannya.

"Ngongkon wong sholat ki hukume yo dosa, mengko nek bar sholat wae sing ngongkon. Wong lagek khusyuk sholat kok dikongkon-kongkon".

Kether beranjak dari duduknya, lalu kemudian keluar meninggalkan kamar Subur begitu saja. Sama persis seperti saat ia hendak masuk.

"Woo. Cah bajingan...!"

Terdengar suara Subur dari dalam kamarnya.

***
Baca kisah Kos-kosan Menyan yang lain:

Kos-kosan Menyan (1)
Kos-kosan Menyan (2)
Kos-kosan Menyan (3)
Kos-kosan Menyan (4)

04 November 2016

Kos-kosan Menyan (3): Kether Nglantur


Pagi hari saat matahari baru menampakkan sinarnya. Subur sedang duduk melamun di ruang tengah. Sesekali ia sambil menyeruput secangkir kopi hitam gula jawa, yang dibawanya dari Wonosobo.

Tiba-tiba Kether keluar dari kamarnya, tentu dengan muka yang masih kucel. Karena semalam ia mabuk berat.

"Bur, nek seumpomo aku dadi Ariel, kiro-kiro piye?"

"Maksutmu ki piye, Ther?" Subur sambil menyalakan korek, lalu didekatkannya ke sebatang rokok kretek.

"Woo, lha cah asu. Aku ki takon, nek aku dadi Ariel Peterpan, kiro-kiro kepiye?"

"Tak kandani, Ther, Kether"

"Piye, Bur?"

"Neng mburi lawang iki ono koco, kowe ngoco sek. Mengko takon meneh!!" Subur sambil menunjuk pintu yang dimaksud, lalu menghisap rokoknya pelan.

"Woo. Bajingan" umpat Kether sambil berlalu menuju kaca cermin yang dimaksud Subur.

***
Baca kisah Kos-kosan Menyan yang lain:

Kos-kosan Menyan (1)
Kos-kosan Menyan (2)
Kos-kosan Menyan (3)
Kos-kosan Menyan (4)

03 November 2016

Kos-kosan Menyan (2) : Kether


Selain kegemarannya mengoleksi lagu-lagu Peterpan dan menulis puisi. Kether ini orangnya ceplas ceplos dalam mengungkapkan sesuatu, bahkan dengan siapa saja. Tak pandang dengan siapa ia berbicara.

Tapi, saya beruntung, mempunyai teman seperti mereka. Sebajingan-bajingannya mereka, saya tak pernah menyesal mempunyai teman semacam Subur, Arul, dan Kether ini.

Walaupun kadang kami tak cocok satu sama lain, terutama dengan Kether. Bahkan kadang, tingkah polah Kether ini cenderung membahayakan dirinya dan teman-teman disekitarnya.

Pernah suatu ketika, sekitar akhir tahun 2007. Saat kami akan memesan minuman disalah satu warung makan --semacam kedai--, di bilangan Timoho. Saat itu, warung makan sangat ramai sekali.

Penjual warung makan itu adalah seorang wanita muda dengan paras yang sangat menawan dan juga aduhai montok.

Subur, yang pertama kali memesan minuman ke penjaga warung itu.

"Mbak, aku pesen es teh tawar satu ya"

Sipenjual kemudian mencatat pesanan Subur di selembar kertas.

Berikutnya, saya memesan es jeruk, kemudian Arul memesan teh panas.

Lagi-lagi perempuan sintal itu mencatat pesanan saya dan Arul di selembar kertas, yang sekilas tampak semacam nota itu.

Kether, yang sejak dari tadi clingak-clinguk memperhatikan daftar menu. Tiba-tiba ia bilang ke penjaga warung, dengan suara cukup keras.

"Nek pesen susu sing kemringet, ada mbak?"

Bagitu mendengar Kether nyeletuk seperti itu. Subur dan Arul dengan segera menggelandangnya keluar dari warung tersebut.

Dalam benak saya, sesuatu tidak aman pasti bakal terjadi. Saat itu juga, saya membatalkan pesanan kami. Dengan muka memerah, saya bilang ke mbak penjaga warung.

"Maaf mbak, kami tak jadi pesan"

Sesaat, saya langsung lari keluar menghampiri tiga kawan saya itu. Benar saja, Subur sedang menginterogasi Kether.

"Ther, Kether. Kowe ki pancen bajingan tenan kok. Asu kowe ki..."

"Lho, salahku ki opo je, Bur?"

"Kowe ki ora tau nduwe salah. Mung cangkemmu ki layak ditapuki wong sak warung." Jawab Subur dengan muka masam sekali.

***
Baca kisah Kos-kosan Menyan yang lain:

Kos-kosan Menyan (1)
Kos-kosan Menyan (2)
Kos-kosan Menyan (3)
Kos-kosan Menyan (4)

02 November 2016

Bayu Smule


Partner in crime saya malam ini adalah Bayu, penyanyi smule berdarah Kutowinangun yang tempo hari merayakan ulang tahun itu.

Tanpa basa basi, ia langsung memanjat tangga baja setinggi empat meter itu. Sedangkan saya hanya duduk santai didepan layar 14 inchi. Perangainya yang sat set, membuat pekerjaan kami cepat selesai.

"Beres, lik." Terdengar ia berteriak dari atas.

Sambil menancapkan flashdisk, saya membalas teriakannya, dan bertanya kepadanya,

"Kok tumben langsung munggah, lik?"

"Wee, lha. Aku ki meh selak nyanyi je"

"Wooo, biyangane." Batin saya.

Jadi, dari pada sampeyan mumet memikirkan kuda. Jangan lupa, mbesok tanggal 25 November ada Dewa Budjana Live in Concert di Tebing Mbreksi.

Ngomong-ngomong, ajak juga si Principe dan si Salero itu.




31 October 2016

Geger Nyantri


Hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober kemarin, membuat perubahan besar pada Geger; kawan saya yang ngefans dengan segerombolan remaja putri yang gesit nan lincah itu --JKT48.

Bagaimana tidak? Puncak peringatan hari santri itu di gelar di stadion Maguwoharjo, Sleman.
Ia didaulat untuk menjadi operator, menggawangi multimedia LED kesayangannya. Tidak tanggung-tanggung, acara tersebut digelar selama lima hari penuh, tanggal 26-30 Oktober kemarin.

Sudah barang tentu, ia bergaul dengan santriwan atau santriwati dari seluruh pelosok tanah air, yang tumplek blek di stadion yang berkelas internasional itu.

Kehidupannya yang mempunyai arus kiri pun mulai sedikit berubah. Kini, ia mengerti apa itu ta'aruf. Tentu hanya mengerti istilahnya saja, bukan pelaku ta'aruf.

Tapi, ada yang lebih pol dari itu. Bukan, bukan karena dia sudah menggondol santriwati. Adalah presiden Jokowi yang dijadwalkan akan menghadiri acara tersebut, ini adalah kesekian kalinya ia akan bertemu dengan ayah dari pemilik Markobar itu.

Takdir berkata lain, dewi fortuna belum berpihak kepadanya. Mantan orang nomor satu di Solo itu batal hadir. Ia tampak masygul.

Ia tidak lantas terus larut dalam kesedihan, karena presiden junjungannya batal hadir. Ia tetep sumringah, setidaknya masih ada santriwati yang menghiasi pandangannya.

"Bajingan, santrine ayu-ayu" umpatnya.

"Woo, kandaniyok" saya menimpali.

Kekecewaannya terobati, karena acara tersebut menghadirkan band legendaris; Slank. Band yang berusia 33 tahun itu dijadwalkan tampil di dua hari terakhir di gelaran acara tersebut.

Ia semakin bungah dalam menjalankan tugasnya, mengoperasikan layar LED. Rasa lelah, lapar dan kantuk pun hilang. Karena sebelumnya, di group whatsapp ia berujar, bahwa tiga hari belum mandi dan belum tidur. Sambil mengirimkan foto ini.

Semoga, sepulang dari tugasnya di Maguwo, ia membawa pulang salah satu santriwati tersebut, dan diperkenalkan dengan ibu dan bapaknya.

Allah Karim.

29 October 2016

Videotron Lathansa


Di linimasa media sosial, banyak sekali sebaran berita tentang aksi tanggal 4 November nanti. Yang sudah barang tentu, tautan berita tersebut berasal dari situsweb-situsweb yang buzzer itu. Bergemuruh.

Saya bukan pendukung Basuki, bukan pula pendukung Anis, apalagi Agus. Lha wong tiga kali pemilihan presiden saja, saya tidak pernah mencoblos. Saya lebih memilih mengendalikan seluruh konten iklan videotron di Yogya, hanya dengan sambil klekaran didepan laptop. Beres.

Seingat saya, terakhir mencoblos --memilih-- saat saya masih duduk dibangku SMA. Saat pemilihan ketua OSIS. Alih-alih saya tak enak hati, karena kandidatnya teman saya sendiri.

Dengan adanya telepon pintar. Suka tidak suka, mau tidak mau, berita ini pun menyebar secara luas. Semua orang tahu, siapa yang akan di demo pada tanggal 4 November nanti. Adalah Basuki alias Ahok.

Dari kanal berita terpercaya, aksi ini bukan demo, melainkan aksi damai. Beberapa organisasi melarang anggotanya membawa atribut organisasinya saat mengikuti aksi unjuk rasa tersebut. Begitu yang saya tangkap.

Tapi, ada yang mereka tidak tahu. Bahwa sebenarnya dalam penyebaran berita tersebut, ada campur tangan dari pihak China. Lha bagaimana tidak? Dari sekian banyak buzzer yang menyebarkan berita, mereka tidak sadar, kalau telepon genggam mereka buatan China. Lak yo blaik to su? Eh, mas.

Jadi, apakah sampeyan-sampeyan mau pasang iklan di videotron yang kami kelola? Tenang, videotron kami buatan Korea Selatan.

25 October 2016

Lumernya Es Krim Bathok Joglo Pari Sewu






"Selamat datang, mari silahkan," seorang pelayan pria menyambut kedatangan kami. Saat kami memasuki kedai rumah makan dengan bangunan rumah joglo dengan suasana yang sangat asri.

Sambil melempar senyuman, pria berwajah oriental ini mempersilahkan kami untuk duduk. Serta menyodorkan dua lembar daftar menu. Lalu kami menuju meja dan kursi yang bermotif lawas dan kekinian dipadu padankan, tertata rapi. Terlihat sangat artsy dan juga homy.

Dengan pakaian serba hitam, juga sepatu hitam dengan tiga garis putih. Pria itu juga mengenakan apron warna hitam, pria seumuran Joshua Suherman itu juga memakai kacamata. Sedikit terlihat kelelahan, hari ini sepertinya banyak pengunjung. Sedangkan, pelayan yang lain sibuk menyiapkan menu pesanan pengunjung lain siang itu.

Kami datang saat jam makan siang. Memang terlihat sesak penuh pengunjung saat itu. Hanya tinggal satu meja dan kursi yang belum terisi. Tepat berada di pojokan.

"Di akhir pekan, tempat ini memang selalu penuh", ujar pria dengan rambut klimis dengan olesan minyak pomade itu.

Urek, urek, urek. Sreeett. Saya menulis beberapa menu pesanan, lengkap dengan menuliskan nomor meja dimana kami duduk.

"Tunggu sebentar mas, pesanannya nanti saya antar", ucapnya. Ia pun berlalu.

Tak hanya di akhir pekan, kini Yogya saat hari-hari biasa juga sudah mulai akrab dengan hingar bingar kota, juga dengan kemacetan, begitu juga dengan banyaknya bangunan semacam hotel dan tempat belanja kaum milenial: mall, yang sudah menjamur dimana-mana. Tempat ini sangat cocok, untuk sejenak melepas kepenatan.

Tapi tak apa, zaman memang sudah berkembang dan berubah. Tentu bukan hanya Yogya. Pemeran "Dora" dalam serial "Dora The Explorer" saja kini sudah tumbuh menjadi remaja. Apalagi hanya untuk sebuah kota seperti Yogya. Sangat masuk akal.


Suasana Joglo Pari Sewu terlihat dari luar ruangan - © Instagram @hendra241

Adalah Joglo Pari Sewu, tempat makan ini berada jauh di utara kota Yogya. Tempatnya yang jauh dari kebisingan juga keriuhan kota, memang sangat cocok untuk pelarian sekaligus menyegarkan otak.

Sebetulnya kami sudah lama mengetahui informasi tentang tempat makan yang instagramable ini. Istri saya yang tahu infonya dari aplikasi berbagi foto yang termasyur itu. Hanya saja, baru kali ini kami memiliki kesempatan untuk berkunjung ke tempat yang jaraknya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit dari pusat kota Yogya ini.


Suasana Joglo Pari Sewu terlihat dari dalam ruangan - © Instagram @ncesszm

Dari Lotte Mart yang berada di Jalan Lingkar Utara, lurus saja ke utara, sampai ketemu lampu merah Tajem. Belok ke timur, ikuti jalan sampai ketemu Indomaret pertama. Belok ke utara, lurus terus saja sampai ketemu makam di kanan jalan. Lalu belok ke timur, akan menjumpai bangunan poskamling, ambillah ke utara. Ikuti terus saja sampai ketemu jembatan. Tempatnya berada di timur jembatan, selatan jalan.

Suasana tepat diatas sungai - © Instagram @anisahyumnam

Panas sangat terik sekali saat kami baru datang di sebuah bangunan rumah berbentuk joglo yang menghadap ke utara ini. Tapi, suara gemercik air sungai dan angin yang semilir seolah menjadi oase yang dipersembahkan dari alam. Rasa panas dan terik pun lenyap, berubah menjadi suasana yang tenang, nyaman lagi adem.

Pesanan kami akhirnya datang. "Silahkan mas, mbak", pria itu membawakan pesanan kami, sambil menyajikannya. Rupanya baru minumannya saja yang diantar.

Air teh dengan beberapa prongkolan es batu juga beberapa lembar daun mint didalamnya. Disajikan dalam gelas yang cukup besar ukurannya. Menambah suasana adem ditengah teriknya matahari didalam warung nongkrong juga tempat ngopi itu. Segelas tea mint ini hanya Rp 8.000.

Amazing yang baru berumur satu setengah tahun memesan es krim bathok. Ia menunjuk gambar es krim dengan tangan mungilnya di daftar menu. Rupanya, bukan hanya soto saja yang disajikan dengan bathok --soto yang terkenal di seantero Pyongyang (baca: Piyungan)-- itu.


Es Krim Bathok dan Tea Mint - © Instagram @izzyisyudi


Es krim pun kini sudah ada versi bathoknya. Adalah es krim dengan taburan choco chrunch, buah cherry, marsmellow juga siraman madu dengan topping oreo juga astor yang di tancapkan persis diatasnya. Tentunya disajikan dengan bathok atau tempurung kelapa. Rasanya yang lumer didalam mulut, menambah nikmat suasana siang itu.

Tentu, Amazing tidak menghabiskannya sendirian. Es Krim Bathok ini dibanderol dengan harga Rp 15.000 per porsinya.

Istri saya memesan wedang uwuh. Minuman yang terbuat dari campuran daun cengkeh, daun pala, jahe, serutan kayu secang, gula batu juga rempah lainnya ini disajikan dalam satu gelas. Seperti namanya, minuman ini layaknya sampah.

Menurut buku yang saya baca, tapi saya lupa judulnya. Wedang uwuh ini mempunyai khasiat yang sangat ampuh. Salah satunya ialah memperlancar haid. Ya, haid. Cukup merogoh kocek Rp 15.000 untuk segelas wedang uwuh.

Selain memesan minuman dan makanan berat, kami juga memesan mendoan juga pisang jari. Mendoan disajikan dengan sambal kecap, pedas manis. Tapi, masih kurang pedas untuk ukuran lidah saya.

"Maaf mas, untuk siang ini persediaan pisang kami sedang kosong", ucap pelayan sambil menjelaskan kepada kami.

"Apakah mau ganti dengan menu yang lain?" Ia menawarkan beberapa menu. Tapi sepertinya kami belum tertarik dengan menu lainnya. Ternyata belum rejeki kami untuk makan pisang siang itu.

Tadinya, kami penasaran dengan pisang jari ini, karena dilihat dari gambar yang ada di daftar menu. Tampilan pisang goreng ini disajikan dengan sambal cocol --pisang goreng, dicocol sambal-- bikin ngiler tentunya. Pisang jari ini dibanderol dengan harga Rp 10.000.

Tak lama kemudian, pesanan makanan berat kami datang. Sambil menyantap makanan yang disajikan, saya melihat samping kanan kiri, beberapa kursi sudah ada yang kosong, ada juga beberapa pengunjung yang berpose lalu di jepret oleh kawannya.

Terlihat ada beberapa remaja putri dengan paras yang semlohai sedang mengarahkan gajet ke mukanya sendiri. Lalu, mak cekrek.

Disini memang ada sebuah galeri rumah foto. Dengan hanya membayar tiket sebesar Rp 15.000 per orang sudah bisa berfoto dengan beberapa furniture yang classie juga vintage. Galeri rumah foto ini tempatnya terpisah, ada disebelah atas. Hanya menaiki beberapa anak tangga.


Galeri Rumah Foto - © Instagram @icalrizalia


Galeri Rumah Foto - © Instagram @jogloparisewu

Ah, tempat ini sepertinya cocok untuk untuk membuat awet muda. Lain kali kami akan berkunjung lagi.

Jadi, sampeyan-sampeyan ingin menyegarkan otak, istri sampeyan terlambat datang bulan, anak sampeyan susah sekali makan wortel, atau pipis sampeyan kurang lancar? Bolehlah sampeyan coba mengunjungi tempat ini.

14 October 2016

Install Ulang Laptop



"Barang siapa yang belajar Al-Quran tanpa guru, gurunya setan". Itu kalimat yang dikatakan oleh Nusron Wahid saat tampil di layar kotak yang bisa memunculkan gambar itu, yang sebelumnya diikuti dengan bahasa Arab.

Saya bukan karyawan Nusron Wahid, juga bukan penggemar Bang Gomes di acara Golden Memories. Tapi, apa yang disampaikan oleh mantan anggota DPR RI itu benar adanya.

Kapan waktu, seorang kawan mengirim pesan kepada saya. Beliau berniat meminta bantuan kepada saya, untuk menginstalasi ulang laptopnya. Karena beliau masih gamang dalam urusan instal menginstal ini. "Data-datanya sangat penting", ujarnya.

"Tolong instalke laptopku. Tapi, jangan sampai hilang data-datanya". Begitu isi pesan beliau.
Tapi, dengan halus saya menolaknya. Karena saat itu saya ada keperluan yang lebih mendesak. Saya pun meminta maaf karena tidak bisa menolongnya.

Selang beberapa jam, beliau mengirimkan pesan lagi. "Mas, data-dataku ilang kabeh. Tak install ulang dhewe. Aku ndelok panduan seko google".

"Modaaar". Jawab saya.

Jadi, saking tidak sabarnya. Beliau menginstal ulang sendiri dengan mengikuti panduan yang banyak tersebar di internet. Sama seperti Al-Quran. Dalam urusan belajar, apalagi coba-coba, carilah guru yang benar-benar mengerti. Tidak asal comot sana, comot sini. Apalagi untuk ayat Al-Quran.

Mungkin, saat itu beliau sedang sedih karena kehilangan data-datanya. Tapi, setidaknya kawan saya itu tidak merekam dirinya saat menangis, dan mengunggahnya di akun instagram dengan durasi 58 detik. Lalu dihapus lagi. Rak yo blaik.

Jadi, saya tekankan lagi. "Yang paling tahu tentang apa yang saya tulis ini, ya saya sendiri. Bukan orang lain. Bukan Pasha Ungu, apalagi Maria Mercedes".

Saya harap, saat sampeyan membaca tulisan ini, jangan sampai salah paham. Apalagi, pahamnya salah.

Demi tabung gas tiga kiloan yang semakin langka. "Ini saya sampaikan dengan kebenaran".

Ngomong-ngomong, Pasha Ungu anaknya sudah berapa, ya?

10 October 2016

Buku Amazing


Ini adalah akhir perburuan kami saat mengisi liburan kemarin di salah satu toko buku di bilangan Sudirman. Istri saya membelikan empat buku sekaligus.

Beliau berujar, dua buku yang dibelinya berisi tentang cara mengasuh anak. Ayu Ting Ting dan Nagita Slavina sering menyebutnya dengan istilah parenting. Saya hanya mengiyakan saja.

Sampai status ini saya buat, saya belum sempat membuka apalagi membaca dua buku itu. Lha wong dilihat dari sampulnya saja, buku itu ditujukan untuk kalangan mamah muda. Syaiful Jamil sering menyebutnya dengan sebutan mahmud. Mungkin lain kali saya akan membacanya. Ini penting.

Tapi tak apa, beliau sebagai orang tua juga sebagai ibu muda. Saya biarkan saja beliau membeli buku itu. Karena selain dari pengalaman sekitar. Rasa-rasanya kok ya perlu juga membaca dari buku tentang cara mengasuh anak ini. Supaya ada panduannya. Bukankah Mas Agus Harimurti juga masih dipandu? Eh.

Kembali ke Syaiful Jamil. Eh, maksud saya ke buku. Selain dua buku khusus untuk mamah muda tadi. Beliau juga membelikan buku untuk Amazing. Adalah Bengkel Isidore bagian 3.

Amazing bungahnya bukan main saat ia tahu dibelikan buku Bengkel Isidore. Ini sudah buku ketiga yang ia miliki. Buku yang pertama dan kedua ia miliki saat masih berusia tujuh bulan. Hari ini ia berusia tepat dua puluh bulan.

Selain buku tentang mahmud dan Bengkel Isidore, istri saya juga membelikan buku untuk saya: Panduan Lengkap Singapura. Badalah.

Beliau memang mengerti apa yang saya cari. Tapi, rupanya kemarin istri saya habis ngaduk-aduk riwayat pencarian di gawai yang saya miliki. Beliau tahu kalau saya sedang mencari informasi tentang liburan ke Singapura di peramban saya. Karena biar liburannya tak hanya di Mbantul melulu. Ujarnya.

Untung saja beliau tidak menemukan riwayat pencarian tentang Mas Ariel dan Mbak Miyabi itu, pasti akan lain ceritanya. Mungkin beliau akan membelikan buku yang lain. Rak yo blaik.

Buku yang dibeli waktu lalu saja, masih tertata rapi di rak, belum habis saya baca. Ini sudah ketambahan lagi. Jadi, mari membaca.

Eh, ngomong-ngomong ada yang tahu kabar Syaiful Jamil?

04 October 2016

Penggandaan ala Subur


Kemarin, seorang preman yang status kepremanannya masih saya ragukan. Mengirimkan pesan singkat kepada saya.

Beliau berniat menulis ulang tulisan saya tentang seluk beluk pergendulan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung meng-iyakan saja. Dari pada saya babak belur.

Selang beberapa saat, ia mengirim pesan lagi. Isinya, mengutarakan ingin menggandakan uang kepada saya. Tapi, untuk kali ini saya menolaknya dengan sangat halus.

Begini ya Bur, Subur. Di zaman serba modern sekarang ini, apa saja bisa dilakukan dengan mudah. Lha wong urusan masuk surga saja bisa dilakukan dengan hanya meng-klik like, share dan tulis amin. Beres urusan surga.

Apalagi soal ganda-menggandakan uang. Sebetulnya saya mampu. Hanya saja saya perlu beberapa jubah, diantaranya warna putih, warna hijau dan warna hitam juga kupluk kekinian model Dewi Hughes.

Serta seorang videografer amatir, supaya nanti video saya bisa dilihat oleh ilmuwan bergelar Profesor Doktor, lulusan The American University. Satu lagi, saya juga harus fasih dalam mengucapkan istilah "transdimensi".

Bukankah begitu, Mas Taat?

28 September 2016

Agen Property


Ditengah riuh rendahnya pilgub DKI yang semakin memanas, perseteruan Mario Teguh dengan Kiswinar yang semakin lucu. Juga belum usainya episode sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin atas terdakwa Jessica Kumala Wongso (kalimat terakhir mungkin sampeyan sudah hafal di luar kepala).

Saya akan menulis tentang dunia yang saya geluti. Selain sebagai penjuwal sarung bantal serta jilbab syar'i model kekinian, juga sebagai teknisi perangkat keras serta piranti lunak di sebuah perusahaan multimedia di Yogya.

Saya juga merangkap sebagai teknisi pocokan di sebuah perusahaan Property Consultant asal Australia yang membuka lini perusahaannya di Indonesia, tak terkecuali di Yogya.

Awalnya. Saya belajar tentang seluk beluk komputer dari seseorang yang saat ini tinggal dan menetap di Timika, Jayapura. Juga dari seorang sarjana komputer ahli berdagang, yang kini menetap di Solo. Dari beliau-beliaulah saya berguru dan meramu sejak sembilan tahun silam.Saya dirawat dan dibesarkan seperti anak sendiri. Macam Malika, kedelai hitam.

Ini menambah daftar panjang pengalaman saya sebagai seorang teknisi, terlebih untuk agen property berjaringan global ini.

Tapi, jangan senewen dulu. Saya tidak akan berkutat dengan semrawutnya kabel jaringan internet di ruang server, atau ribetnya sistem operasi bermaskot penguin. Ini tentang hal sepele.

Dari sekian pekerja yang ada di kantor itu. Sudah terbiasa bagi mereka tentang alotnya izin mendirikan bangunan, atau gontok-gontokan dengan notaris, bahkan senggol bacok dengan para makelar, broker, bahkan perantara pun sudah menjadi hal biasa dan sepele.

Mereka sudah terbiasa menghadapi itu semua. Tapi tidak untuk urusan mouse yang kadang mati, printer yang macet, atau internet yang byar pet. Mereka akan panik setengah modar jika hal itu terjadi. Disaat itulah saya datang menyelamatkan kepanikan mereka. Ini kan hal yang sepele dan gampang, tentunya bagi saya.

Tapi, ada hal yang sebenarnya gampang dan sederhana tapi dibuat pusing sama pembeli-pembeli rumah itu.

Banyak orang yang lebih suka memperumit hidup mereka, padahal tersedia jalan yang mudah dan sederhana. Misalnya saja, soal bagaimana membeli rumah, yang harganya kian melangit. Kan, mereka tinggal melihat rumah yang mau dibeli, jika cocok, datangi pihak penjual, lalu bayar. Segampang klik kanan, refresh. Beres urusan.

Jadi, sampeyan-sampeyan ingin cari tanah atau rumah di Yogya? Mungkin saya bisa membantu. Tapi, perlu diingat, hari senin harga naik. Bukankah begitu, kak Feni Rose?